st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Arial Unicode MS”; panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1 -369098753 63 0 4129279 0;} @font-face {font-family:”Bookman Old Style”; panose-1:2 5 6 4 5 5 5 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Mistral; panose-1:3 9 7 2 3 4 7 2 4 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Bodoni MT”; panose-1:2 7 6 3 8 6 6 2 2 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:Ravie; panose-1:4 4 8 5 5 8 9 2 6 2; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:decorative; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:”Book Antiqua”; panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”\@Arial Unicode MS”; panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1 -369098753 63 0 4129279 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
Dear Allz…
Met pagiiiiiiii….heeeelllowww….awal minggu niiih. Semangat dooong ! Hmm…tarik nafas dulu…tahan sebentar…yaaa…sekarang lepaskan pelan-pelan…sshhsss….okeee ? Boleh diulang lagi ? Yeaaah..Baguus!
Sekarang santai dulu…duduk yang enak…pandang layar komputer dengan tenang…senyum dulu…hm…SMILEEEEE…Cukup 7 centimeter saja…nah, begitu lebih manis…he he he…
Hmm…sekarang kita ngobrol dulu saja, ya ? Tetap yang ringan…dan perlu…he he…Ya, seperti sarung. Itu kan ringan…tapi perlu. Penasaran? Ssttt…jangan nyengir dulu. Ini cerita sarung beneran kok !
Kali ini saya mau sharing urusan sarung-menyarung yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Selamat menikmati…Semoga berkenan….
Salam hangaaat,
Ietje S. Guntur
Art-Living Sos 2008 (A-10.25.01
Start : 10/25/2008 8:46 AM
Finish : 10/26/2008 7:49 PM
S.A.R.U.N.G
Saya sedang sibuk sendiri. Packing ! Mempersiapkan pakaian dan perlengkapan lainnya untuk perjalanan dinas. Hmmm…ini nih urusan yang bikin saya selalu mumet ! Kalau mau masuk dalam kisah ‘percaya tidak percaya’, maka urusan packing-mempacking saya ini boleh jadi masuk ke dalam rubrik itu…hehehe…
Bagaimana orang mau percaya kalau saya ini sebetulnya gak bisa packing…heh heh. Terutama packing untuk perjalanan pribadi… termasuk perjalanan dinas seperti kali ini. Entah kenapa, setiap kali harus packing…kepala saya langsung pusing. Keleyengan. Mata berkunang-kunang. Yang paling pusing, kalau packing dari rumah menuju tempat tujuan. Rasanya seluruh isi lemari mau dibawa pergi…ha ha ha…
Padahal, kalau dirunut ke belakang…saya sudah melakukan perjalanan ke luar kota sejak masih bayi merah. Ayah saya doyan jalan. Ibu saya apalagi…sama sebangun dengan ayah saya. Keturunan kaki panjang juga. Apalagi dengan tugas ayah saya dulu di luar kota. Membuat kami sering bepergian…seperti pengelana. Herannya, kenapa ketrampilan ibu dan ayah saya dalam urusan packing-mempacking tidak menurun kepada saya ? Hiks hiks hiks…
Saya hanya ingat pesan ibu dan ayah saya, kalau kemana-mana jangan lupa bawa kain sarung ! Iya…kain sarung…terutama sarung kesayangan saya yang ditenun kotak-kotak.
Jadilah…setiap kali packing dan memuat perlengkapan perjalanan ke dalam koper atau ransel, pasti sarung kesayangan itu saya jejalkan duluan di dasar koper. Atau kadang justru di bagian paling atas, sebelum diikat ketat dengan penahan koper. Itu merupakan perlengkapan standar yang mesti ada di dalam koper atau ransel saya.
♥
Kenapa mesti kain sarung ?
Buat teman-teman dan sahabat yang sudah tahu bentuk dan rupa sarung, baik yang kotak-kotak berwarna warni maupun yang berbunga ria seperti taman, sarung itu adalah benda…eeeh…tekstil yang paling banyak gunanya. Coba aja kita simak satu persatu…
Buat ibu-ibu dan bapak-bapak yang doyan sarungan, kan sarung itu biasa dipakai untuk ke kondangan. Misalnya, sarung pelékat dan sarung songket Palembang…hmmm…Sarung bertabur benang emas ini menunjukkan kelas sosial seseorang. Halus kasarnya tenunan dan variasi motif juga menunjukkan status dan fungsi sarung di dalam acara-acara sosial.
Dalam masyarakat lainnya sarung juga memiliki fungsi sosial di samping fungsi-fungsi lainnya. Saya jadi ingat, dulu ketika masih tinggal di Sumatra. Ibu saya paling cerewet kalau urusan sarung menyarung ini. Beliau memiliki banyak koleksi sarung dari berbagai daerah, dan hanya boleh digunakan untuk acara-acara tertentu saja. Cara menggunakannya juga ada aturannya, nggak boleh sembarangan …waaah…
Buat saya sendiri, kain sarung itu banyak banget gunanya. Selain untuk sholat, juga bisa untuk selimut waktu tidur, bisa untuk alas di atas seprai , bisa juga untuk taplak meja dalam keadaan darurat…tapi paling sering ya memang untuk kerudungan kalo lagi kedinginan …hehehe….pokoknya sarung is the best-lah…
Saya punya satu sarung ‘keramat’…( bukan sarung sakti lho, ini hanya istilah ibu saya…)…soalnya itu sarung dari jaman saya SD, waktu masih ikut mengaji di dekat rumah. Ketika pertama kali diberikan kepada saya, sarung itu masih kepanjangan, jadi mesti digulung dulu. Tapi saya tidak peduli, karena dengan kepanjangannya malah bisa dibuat menutupi kaki supaya tidak digigit nyamuk. Selain itu tiap pulang mengaji, sarung dikerudungkan ke kepala…dibuat seperti pocong…untuk menakut-nakuti teman…hi hi hi…dasar jahil…
Sarung itu selalu saya bawa ke mana pun saya pergi. Sampai kuliah dan menikah, sarung keramat itu tetap saya bawa, walaupun ada sarung-sarung yang lain. Bahkan ketika saya punya anak, sarung itu juga menjadi alas tidur si Cantik saya . Tenunan benangnya yang sudah mulai melapuk malah membuat sarung itu lebih mudah menyerap keringat. Adeeemmm….
♥
Ngomong-ngomong soal sarung.
Seorang teman bilang, bahwa sarung itu mempunyai filosofi juga. Saya sempat termangu. Maksudnya apa ?
Setelah saya perhatikan benar-benar…memang betul juga. Sarung adalah benda serba guna yang memiliki nilai kontradiktif. Di satu sisi sarung itu adalah benda atau secarik kain yang bisa dipakai oleh siapa saja. Artinya sarung tidak memandang umur dan kelas sosial…tapi pada saat yang sama sarung sekaligus bisa membedakan kelas sosial orang yang satu dengan yang lain…(ini anehnya…). Di lain sisi, sarung juga dapat dilihat sebagai simbol pengkotak-kotakan manusia.
Sarung kotak-kotak…seperti simbol peng-kotakan manusia. Ada kotak kecil, ada kotak besar. Ada warna terang, ada warna gelap. Semua dipisahkan oleh garis yang tegas. Padahal manusia kan tidak begitu. Kadang kita berada di kotak kecil, kadang di kotak besar. Bahkan dalam satu waktu tertentu, kita bisa berada di dua kotak yang berbeda.
Sarung lainnya…yang dibuat dengan corak batik atau tenun sulam-sulaman. Masih juga memiliki filosofi keterbatasan manusia. Walaupun batik lebih memberi ruang untuk berekspresi, tetapi tetap ada pakem yang mesti diikuti agar serasi. Hmm…barangkali ini, ya filosofinya ? Bahwa di dalam kebebasan berekspresi, tetap ada pakem atau panduan yang mesti diikuti.
Istilah sarung itu pun akhirnya berkembang. Seharusnya sarung itu seperti pembungkus, tapi terbuka di bagian atas dan bawah. Belakangan istilah sarung juga termasuk untuk menutupi segala jenis benda. Sarung bantal misalnya, hanya terbuka di satu sisi. Sementara sarung guling, walaupun terbuka di kedua sisinya, tapi kemudian diikat agar isinya tidak nyelonong ke luar…(ya, namanya juga guling…bulat lonjong seperti lontong…hmm..).
Sekarang semua yang membungkus disebut sarung. Sarung handphone, sarung jok mobil, sarung botol gallon dispenser, sarung tinju ( padahal kan lebih mirip sarung tangan, ya ? kok sarung ???)…he he he…
Cerita soal sarung , saya jadi ingat seorang sahabat . Yang sekarang lagi keranjingan pakai sarung, kemana pun dia pergi. Bahkan untuk acara resmi dan setengah resmi, dengan nikmatnya beliau yang berkepribadian unik ini juga suka pakai sarung. Beliau cuek saja kalau ada orang yang melirik-lirik heran melihat penampilannya . Dia malah balik bertanya ,” Memangnya kenapa kalau saya pakai sarung ?”
Saya sebetulnya ingin juga bersarung-ria seperti dia, tapi dengan kelincahan saya (tepatnya pecicilan..hikss..) bergerak ke sana ke mari, maka bisa saja saya akan kesrimpet…he he he…Ini sudah sering terjadi, ketika saya masih ABG dan jaman kuliah dulu. Sarung saya sering sobek bagian dalamnya, karena tersangkut di sana sini ketika berlari-larian…hehehe. Jadi demi keamanan dan kenyamanan lingkungan, sekarang saya hanya memakai sarung dalam situasi tertentu saja…Ke kondangan atau lebaran, serta kalau sedang melakukan perjalanan dinas, dan perlu berkerudung sarung di dalam selimut…(kayak lagi di pos ronda ya…, maklum gak tahan pakai AC…hi hi hi..).
Kembali ke urusan sarung menyarung tadi…serta fungsi sarung yang serba guna, barangkali salah satu filosofi lagi adalah menjadi seperti sarung. Sederhana bisa. Mewah juga oke. Yang penting…kita selalu bermanfaat di saat yang tepat…Menutupi yang penting-penting di saat yang genting-genting…he he…
Hmm…ada filosofi tambahan ?
♥♥♥
Jakarta, 26 Oktober 2008
Salam sarung yang inspiratif…
Ietje S. Guntur
Special note : Thanks untuk sahabatku Pak Krishnamurti…(thanks buat sarung Bali-nya, yaaa…inspiratif bangeettt)…dan mas Bayu…(kalo di Bogor mesti pake nama lain, ya ?)…yang memberi masukan tentang pengkotakan sarung…Juga sohibku Mr Selamat Pagi Indonesia…yang suka banget pake sarung ke warung…he he he…gilo leee….!!!