S.A.R.U.N.G

November 8, 2008 by ietje guntur


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Arial Unicode MS”; panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1 -369098753 63 0 4129279 0;} @font-face {font-family:”Bookman Old Style”; panose-1:2 5 6 4 5 5 5 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Mistral; panose-1:3 9 7 2 3 4 7 2 4 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Bodoni MT”; panose-1:2 7 6 3 8 6 6 2 2 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:Ravie; panose-1:4 4 8 5 5 8 9 2 6 2; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:decorative; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:”Book Antiqua”; panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”\@Arial Unicode MS”; panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1 -369098753 63 0 4129279 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Dear Allz…

Met pagiiiiiiii….heeeelllowww….awal minggu niiih. Semangat dooong ! Hmm…tarik nafas dulu…tahan sebentar…yaaa…sekarang lepaskan pelan-pelan…sshhsss….okeee ? Boleh diulang lagi ? Yeaaah..Baguus!

Sekarang santai dulu…duduk yang enak…pandang layar komputer dengan tenang…senyum dulu…hm…SMILEEEEE…Cukup 7 centimeter saja…nah, begitu lebih manis…he he he…

Hmm…sekarang kita ngobrol dulu saja, ya ? Tetap yang ringan…dan perlu…he he…Ya, seperti sarung. Itu kan ringan…tapi perlu. Penasaran? Ssttt…jangan nyengir dulu. Ini cerita sarung beneran kok !

Kali ini saya mau sharing urusan sarung-menyarung yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Selamat menikmati…Semoga berkenan….

Salam hangaaat,

Ietje S. Guntur

Art-Living Sos 2008 (A-10.25.01

Start : 10/25/2008 8:46 AM

Finish : 10/26/2008 7:49 PM

S.A.R.U.N.G

Saya sedang sibuk sendiri. Packing ! Mempersiapkan pakaian dan perlengkapan lainnya untuk perjalanan dinas. Hmmm…ini nih urusan yang bikin saya selalu mumet ! Kalau mau masuk dalam kisah ‘percaya tidak percaya’, maka urusan packing-mempacking saya ini boleh jadi masuk ke dalam rubrik itu…hehehe…

Bagaimana orang mau percaya kalau saya ini sebetulnya gak bisa packing…heh heh. Terutama packing untuk perjalanan pribadi… termasuk perjalanan dinas seperti kali ini. Entah kenapa, setiap kali harus packing…kepala saya langsung pusing. Keleyengan. Mata berkunang-kunang. Yang paling pusing, kalau packing dari rumah menuju tempat tujuan. Rasanya seluruh isi lemari mau dibawa pergi…ha ha ha…

Padahal, kalau dirunut ke belakang…saya sudah melakukan perjalanan ke luar kota sejak masih bayi merah. Ayah saya doyan jalan. Ibu saya apalagi…sama sebangun dengan ayah saya. Keturunan kaki panjang juga. Apalagi dengan tugas ayah saya dulu di luar kota. Membuat kami sering bepergian…seperti pengelana. Herannya, kenapa ketrampilan ibu dan ayah saya dalam urusan packing-mempacking tidak menurun kepada saya ? Hiks hiks hiks…

Saya hanya ingat pesan ibu dan ayah saya, kalau kemana-mana jangan lupa bawa kain sarung ! Iya…kain sarung…terutama sarung kesayangan saya yang ditenun kotak-kotak.

Jadilah…setiap kali packing dan memuat perlengkapan perjalanan ke dalam koper atau ransel, pasti sarung kesayangan itu saya jejalkan duluan di dasar koper. Atau kadang justru di bagian paling atas, sebelum diikat ketat dengan penahan koper. Itu merupakan perlengkapan standar yang mesti ada di dalam koper atau ransel saya.

Kenapa mesti kain sarung ?

Buat teman-teman dan sahabat yang sudah tahu bentuk dan rupa sarung, baik yang kotak-kotak berwarna warni maupun yang berbunga ria seperti taman, sarung itu adalah benda…eeeh…tekstil yang paling banyak gunanya. Coba aja kita simak satu persatu…

Buat ibu-ibu dan bapak-bapak yang doyan sarungan, kan sarung itu biasa dipakai untuk ke kondangan. Misalnya, sarung pelékat dan sarung songket Palembang…hmmm…Sarung bertabur benang emas ini menunjukkan kelas sosial seseorang. Halus kasarnya tenunan dan variasi motif juga menunjukkan status dan fungsi sarung di dalam acara-acara sosial.

Dalam masyarakat lainnya sarung juga memiliki fungsi sosial di samping fungsi-fungsi lainnya. Saya jadi ingat, dulu ketika masih tinggal di Sumatra. Ibu saya paling cerewet kalau urusan sarung menyarung ini. Beliau memiliki banyak koleksi sarung dari berbagai daerah, dan hanya boleh digunakan untuk acara-acara tertentu saja. Cara menggunakannya juga ada aturannya, nggak boleh sembarangan …waaah…

Buat saya sendiri, kain sarung itu banyak banget gunanya. Selain untuk sholat, juga bisa untuk selimut waktu tidur, bisa untuk alas di atas seprai , bisa juga untuk taplak meja dalam keadaan darurat…tapi paling sering ya memang untuk kerudungan kalo lagi kedinginan …hehehe….pokoknya sarung is the best-lah…


Saya punya satu sarung ‘keramat’…( bukan sarung sakti lho, ini hanya istilah ibu saya…)…soalnya itu sarung dari jaman saya SD, waktu masih ikut mengaji di dekat rumah. Ketika pertama kali diberikan kepada saya, sarung itu masih kepanjangan, jadi mesti digulung dulu. Tapi saya tidak peduli, karena dengan kepanjangannya malah bisa dibuat menutupi kaki supaya tidak digigit nyamuk. Selain itu tiap pulang mengaji, sarung dikerudungkan ke kepala…dibuat seperti pocong…untuk menakut-nakuti teman…hi hi hi…dasar jahil…

Sarung itu selalu saya bawa ke mana pun saya pergi. Sampai kuliah dan menikah, sarung keramat itu tetap saya bawa, walaupun ada sarung-sarung yang lain. Bahkan ketika saya punya anak, sarung itu juga menjadi alas tidur si Cantik saya . Tenunan benangnya yang sudah mulai melapuk malah membuat sarung itu lebih mudah menyerap keringat. Adeeemmm….

Ngomong-ngomong soal sarung.

Seorang teman bilang, bahwa sarung itu mempunyai filosofi juga. Saya sempat termangu. Maksudnya apa ?

Setelah saya perhatikan benar-benar…memang betul juga. Sarung adalah benda serba guna yang memiliki nilai kontradiktif. Di satu sisi sarung itu adalah benda atau secarik kain yang bisa dipakai oleh siapa saja. Artinya sarung tidak memandang umur dan kelas sosial…tapi pada saat yang sama sarung sekaligus bisa membedakan kelas sosial orang yang satu dengan yang lain…(ini anehnya…). Di lain sisi, sarung juga dapat dilihat sebagai simbol pengkotak-kotakan manusia.

Sarung kotak-kotak…seperti simbol peng-kotakan manusia. Ada kotak kecil, ada kotak besar. Ada warna terang, ada warna gelap. Semua dipisahkan oleh garis yang tegas. Padahal manusia kan tidak begitu. Kadang kita berada di kotak kecil, kadang di kotak besar. Bahkan dalam satu waktu tertentu, kita bisa berada di dua kotak yang berbeda.

Sarung lainnya…yang dibuat dengan corak batik atau tenun sulam-sulaman. Masih juga memiliki filosofi keterbatasan manusia. Walaupun batik lebih memberi ruang untuk berekspresi, tetapi tetap ada pakem yang mesti diikuti agar serasi. Hmm…barangkali ini, ya filosofinya ? Bahwa di dalam kebebasan berekspresi, tetap ada pakem atau panduan yang mesti diikuti.

Istilah sarung itu pun akhirnya berkembang. Seharusnya sarung itu seperti pembungkus, tapi terbuka di bagian atas dan bawah. Belakangan istilah sarung juga termasuk untuk menutupi segala jenis benda. Sarung bantal misalnya, hanya terbuka di satu sisi. Sementara sarung guling, walaupun terbuka di kedua sisinya, tapi kemudian diikat agar isinya tidak nyelonong ke luar…(ya, namanya juga guling…bulat lonjong seperti lontong…hmm..).

Sekarang semua yang membungkus disebut sarung. Sarung handphone, sarung jok mobil, sarung botol gallon dispenser, sarung tinju ( padahal kan lebih mirip sarung tangan, ya ? kok sarung ???)…he he he…

Cerita soal sarung , saya jadi ingat seorang sahabat . Yang sekarang lagi keranjingan pakai sarung, kemana pun dia pergi. Bahkan untuk acara resmi dan setengah resmi, dengan nikmatnya beliau yang berkepribadian unik ini juga suka pakai sarung. Beliau cuek saja kalau ada orang yang melirik-lirik heran melihat penampilannya . Dia malah balik bertanya ,” Memangnya kenapa kalau saya pakai sarung ?”

Saya sebetulnya ingin juga bersarung-ria seperti dia, tapi dengan kelincahan saya (tepatnya pecicilan..hikss..) bergerak ke sana ke mari, maka bisa saja saya akan kesrimpet…he he he…Ini sudah sering terjadi, ketika saya masih ABG dan jaman kuliah dulu. Sarung saya sering sobek bagian dalamnya, karena tersangkut di sana sini ketika berlari-larian…hehehe. Jadi demi keamanan dan kenyamanan lingkungan, sekarang saya hanya memakai sarung dalam situasi tertentu saja…Ke kondangan atau lebaran, serta kalau sedang melakukan perjalanan dinas, dan perlu berkerudung sarung di dalam selimut…(kayak lagi di pos ronda ya…, maklum gak tahan pakai AC…hi hi hi..).

Kembali ke urusan sarung menyarung tadi…serta fungsi sarung yang serba guna, barangkali salah satu filosofi lagi adalah menjadi seperti sarung. Sederhana bisa. Mewah juga oke. Yang penting…kita selalu bermanfaat di saat yang tepat…Menutupi yang penting-penting di saat yang genting-genting…he he…

Hmm…ada filosofi tambahan ?

♥♥♥

Jakarta, 26 Oktober 2008

Salam sarung yang inspiratif…

Ietje S. Guntur

Special note : Thanks untuk sahabatku Pak Krishnamurti…(thanks buat sarung Bali-nya, yaaa…inspiratif bangeettt)…dan mas Bayu…(kalo di Bogor mesti pake nama lain, ya ?)…yang memberi masukan tentang pengkotakan sarung…Juga sohibku Mr Selamat Pagi Indonesia…yang suka banget pake sarung ke warung…he he he…gilo leee….!!!

Secarik Waktu

November 8, 2008 by ietje guntur


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Bookman Old Style”; panose-1:2 5 6 4 5 5 5 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Mistral; panose-1:3 9 7 2 3 4 7 2 4 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Bodoni MT”; panose-1:2 7 6 3 8 6 6 2 2 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:Ravie; panose-1:4 4 8 5 5 8 9 2 6 2; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:decorative; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Dear Allz….

Sssttt….lagi apa? Heellloww….yelllow…red…blue…? Haah…kok jadi warna-warni siih ? Apakabar gitu loooh….

Semoga semua teman dan sahabat saya dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apa…dan tidak lebih yang berlebihan. Yang sedang-sedang sajalah kata sebuah lagu dangdut.

Hmm…di bulan-bulan seperti ini enaknya ngapain ya ? Mau libur kok waktunya sudah lewat. Mau ngejar setoran…hmm…kok sudah mepet. Hayoooh…enaknya ngapain ? Rasanya memang waktu cepat banget bergulir…Baru saja kita ngobrol-ngobril soal Resolusi Tahun Baru, eeeh…tahu-tahu sekarang sudah tinggal beberapa minggu lagi menjelang akhir tahun. Sudah waktunya memikirkan resolusi baru…

Itulah waktu. Kita hanya punya 24 jam sehari. 7 hari seminggu. 12 bulan setahun. Dan semua itu balapan dengan umur kita. Apa yang sudah kita lakukan dengan waktu yang kita miliki ? Apa yang sudah kita lakukan dengan semua prasasti ulang tahun kita ?

Aaah…jadi ingin berbagi tentang waktu niiih. Boleh khaaan ? Nggak banyak kok. Cuma ‘Secarik Waktu’. Yang tadi sudah sempat diprotes oleh seorang sahabat saya. Kok secarik ? Iyalah…saya bilang, kalo se-Camat kan repot…hehehe…

Selamat menikmati, ya…semoga berkenan…

Salam detik demi detik,

Ietje S. Guntur

Art-Living Sos 2008 (A-11.02.01

Minggu, 02 Nopember 2008

Start : 02/11/2008 7:21:12

Finish : 02/11/2008 9:52:43

SECARIK WAKTU

Hari libur. Saya sedang menikmati kemerdekaan di luar kota.

Bersama seorang sahabat, saya duduk santai menikmati suasana pagi yang dingin menggigit. Kaki diangkat sebelah. Yang satu lagi dijulurkan ke depan di tembok teras. Tangan dibiarkan ke mana-mana. Kadang memegang koran, kadang menggaruk sana-sini dan menepis nyamuk pagi yang sudah berkeliaran. Secangkir teh hangat dan sepiring gorengan menemani obrolan kami pagi itu. Hmmm…nikmat nian.

Jarang-jarang lho, bidadari seperti saya bisa nongkrong begini di hari libur. Biasanya , walau tanggal di kalender berwarna merah, sejak mata melek sudah seabreg jadwal mengantri minta perhatian. Mulai dari Assistant Kitchen Cabinet yang setiap pagi selalu muncul dengan pertanyaan sesuai SOP (Standard Operating Procedure) ,”Bu…hari ini masak apa ?”…sampai dengan laporan harian mengenai situasi dan keadaan kerajaan ‘home sweet home’ selama seminggu penuh. Tentang keran air , selang air, mesin cuci (yang kadang macet…uuuhh), kolam ikan (dan ikannya yang sudah beranak-pinak ), tanaman, pohon di depan rumah, gorden yang harus dicuci , stok dapur yang mulai menipis…hmm…

Masih disusul dengan daftar tagihan minggu itu…Listrik ( lho kok udah mesti bayar lagi, ya ? hiks hiks…), koran dan majalah, air PAM…(hmm..sama dengan listrik ya ?), telepon (plus jaringan internet), keamanan dan kebersihan lingkungan…Halaaah…Ini termasuk jadwal gak siih ?

Lalu diikuti rencana muluk-muluk untuk mengisi hari libur : tour of duty ke pasar ( Pasar Bidadari yang legendaris itu…), ke toko tanaman ( untuk membeli pupuk yang kelupaan melulu), ke toko ikan ( membeli makanan ikan, dan mana tahu ada ikan model baru), ke toko makanan burung ( hmmm…seharusnya ini jatah Pengeran Remote Control…tapi yawda…kita kan merangkap supporting division juga…hehehe…), ke salon ( urusan hedonis wanita…luluran dan pedicure – memotong kuku kaki yang sudah keriting ujungnya…), ke mal ( untuk memenuhi standar operasional para bidadari…hi hi…mana tahu ada program sale up to 70 %). Masih ada lagi…Urusan pergaulan dengan TTS ( Teman Sana Sini…alias teman dari segala jaman dan segala komunitas). Dan hmm…jadwal ke luar kota yang out of topic.

Saya memejamkan mata. Menajamkan telinga.

Pagi ini tidak ada SOP dari Assistant Kitchen Cabinet saya. Tidak ada daftar belanja. Tidak ada laporan tentang keran air dan selang. Tidak ada urusan pergaulan. Hening. Woassyiikkkk…

Hari ini. Paling tidak pagi ini, saya akan menikmati waktu saya sendiri. Eeeeh…berdua dengan sahabat yang bawelnya lebih dari burung-burung di rumah saya…hi hi hi…(untunglah dia sedang diam, dan asyik dengan artikel gosip di koran setengah kuning).

Tiba-tiba ada suara gemerisik dari sebelah saya. Koran yang tadi terbentang sudah terlempar. Saya pura-pura tidak tahu. Meneruskan lamunan.

“Mikirin apa sih ?” sahabat saya bertanya. Heran. Melihat saya memejamkan mata sambil tersenyum-senyum.

“Lagi menikmati hidup !” sahut saya cuek. Masih merem.

“Memangnya selama ini nggak hidup ?”

“Ya, hidup jugalah…tapi hari ini warnanya lain .”

“Warna ?”

“Iya…warna. Hidup ini kan penuh warna. Sesuai dengan waktunya.”

“Apa iya ?”

“Iyalah…aku sedang memikirkan masa lalu dan hari ini.”

“Warnanya apa ?” sahabat saya semakin tergelitik. Bola matanya yang bulat bundar itu semakin membulat dan berkerlip-kerlip. Tanda ingin tahu. Saya sudah melihat antene terpasang di ujung kepalanya. Siap menerima informasi apa pun. Bahkan jika informasi itu hanya sekedar harga cabe keriting di Pasar Angso Duo Jambi.

“Ungu !” sahut saya. Pendek. Sambil menatapnya dengan tatap penuh arti.

“Ungu ?”

“Iya…ungu !”

“Kenapa ungu ?” dia makin penasaran. Dia tahu saya penggemar warna ungu. Tapi bukan itu masalahnya.

“Heeeh…ungu itu kan gabungan warna biru dan merah.”

“Trus…apa hubungannya sama hari ini ?”

“Biru itu kan simbol masa lalu. Keterikatan kita dengan kenangan. Merah adalah energi. Hari ini kita perlu energi. Merah adalah simbol hari ini”

“Kesimpulannya ?”

“Ungu itu adalah masa lalu dan hari ini,” sahut saya cuek.

“Kalau masa depan ?’ dia bertanya penuh hasrat.

“Kuning !”

“Kuning ?”

“Kuning itu kan warna matahari. Orang yang melihat masa depan, berarti melihat matahari.”

“Kok bisa sih waktu pakai simbol warna-warni ?”

“Dalam ilmu warna dan lukisan, hanya ada 3 warna dasar. Merah, Kuning dan Biru. Itu yang dicampur dengan warna hitam dan putih. Menjadi semua warna di dunia ini. Tinggal intensitas dan kadarnya saja yang diatur, diharmonisasikan. Jadilah warna seperti pelangi… ’me-ji-ku-hi-ni-u’…seperti pelajaran kita waktu SD dulu..” saya menjelaskan, bak seorang ahli warna…hmm…

“Hmmmm…jadi kalau orang suka warna ungu, berarti dia suka masa lalu dan hari ini ?” sahabat saya menebak-nebak.

“Barangkali iya…,”sahut saya pelan. Membatin, barangkali saya memang seperti itu. Suka terikat dengan masa lalu, tapi selalu bersemangat untuk hari ini…hiikss…

“Kalau oranye ?”

“Itu gabungan warna merah dan kuning. Jadi dia adalah orang hari ini dan masa depan !”

“Haaaa…itu aku !” sahutnya girang. Matanya berbinar-binar seperti kerlip lampu di pohon natal.

“Barangkali memang begitu, ya ?” sambar saya cepat. Sejenak, saya seperti mendapat pencerahan. Kok bisa ya, warna-warni itu menjadi simbol kehidupan ?

Pembicaraan kami lalu bergulir. Tentang masa lalu, hari ini dan masa depan. Lalu bergulir lagi, dan menerawang (hmm…seperti peramal cuaca) warna-warni sahabat-sahabat kami yang lain.

“Eeeh…kalau si A itu warnanya hijau, ya ?” tanya sahabat saya.

“Hmm…boleh jadi. Dia kan masih terikat masa lalu, tapi juga memikirkan masa depan. Dia sulit tuh diajak ngobrol tentang hari ini.” Saya sok menganalisis, sambil membayangkan sahabat kami yang tenang dan kalem seperti sungai Bengawan Solo yang mengalir sampai jauh…hehehe.

“Kalau si B, gimana ? Dia kan gampang marah tuh. Apa warnanya merah semua ?” tanya sahabat saya lagi. Saya lalu membayangkan, membandingkan perilaku sehari-hari sahabat kami dengan sisa-sisa ilmu psikologi yang pernah menempel di kepala saya.

“Hehehe…jangan-jangan dia oranye juga tuh…kayak kamu !”

“Haaah ??? Kalau begitu dia termasuk orang yang tidak terlalu terikat dengan masa lalu, ya ?”

“ Heh..heh..mana kutahu ! Ini kan bukan ilmu psikologi. Tapi ilmu nemu-nemuan di pagi hari yang indah,” sahut saya cepat. Kuatir kalau dia mengutip pernyataan saya dan memasukkannya ke jurnal ilmiah. Bisa-bisa saya akan diprotes dan didemo oleh ahli psikologi di seluruh dunia…hehehe…

Ngomong-ngomong soal waktu, kita memang terikat dengan waktu perjalanan hidup kita. Seperti kata orang bijak, satu-satunya yang tidak pernah bisa kembali adalah waktu. Waktu di masa lalu, adalah jejak-jejak langkah kita yang tidak mungkin kembali…dengan kondisi yang persis sama.

Sedangkan masa depan, walaupun sudah direncanakan dan diimpikan secermat mungkin, tetapi masih ada kemungkinan meleset. Bahkan orang seperti saya, yang terikat dengan SOP dari kerajaan ‘home sweet home’, selalu ada yang berbeda dari hari ke hari. Ada tambahan, dan ada kurangnya. Selalu bervariasi. Selalu dinamis. Apalagi dengan berbagai kegiatan yang silih berganti mewarnai, jadilah SOP itu bisa berubah-ubah sesuai kebutuhan.

Yang kita miliki, seperti kata seorang sahabat saya yang bijak bestari, adalah hari ini. Detik ini. Betul-betul hanya satu detik !

Keputusan juga diambil hanya dalam hitungan detik. Tidak perlu enam detik, tapi cukup satu. Pikir dan duaarrr !! Lalu keputusan itu akan mempengaruhi hidup kita, sepanjang waktu. Pahit manis. Asem asin. Gurih pedas. Tergantung pada detik kita membuat keputusan.

Jadiiii…kalau kita kembali kepada warna-warni tadi dan hubungannya dengan waktu. Hmmm….begitulah…apa pun warna yang kita pilih, yang penting adalah bagaimana kita bisa mengisi kehidupan ini dengan semua warna yang kita miliki. Ungu, biru, merah, oranye ( atau orange…biar agak keren gituu…), hijau…bahkan hitam…Ibarat ada yang disebut dengan corporate color, maka boleh jadi juga ada lifetime color.

Ssssttt…kembali lagi ke ungu…Itu memang warna favorit saya, lho. Romantis, yaaaa ??? he he….

Jakarta, 2 November 2008

Salam warna-warni….

Ietje S. Guntur

Special note : Thanks buat sahabat jiwaku si Orange-Nonce…yang selalu berisik dan full energi…thanks buat bincang-bincang di sudut Bandung suatu ketika…Dan semua sahabat warna-warniku…Far-O-Near, Fisher, Blue Ocean, Blue Sky, dan Green Belt…thanks buat semua warna dan dinamika yang mengisi relung-relung hidupku….

Daster…Tapi Mesra

November 8, 2008 by ietje guntur


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Bookman Old Style”; panose-1:2 5 6 4 5 5 5 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Mistral; panose-1:3 9 7 2 3 4 7 2 4 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Bodoni MT”; panose-1:2 7 6 3 8 6 6 2 2 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:Ravie; panose-1:4 4 8 5 5 8 9 2 6 2; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:decorative; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Dear Allz…

Heeellllowww….pakabar ? Lagi ngapain ? Lagi repot atau lagi santai ? Bersyukurlah…kalau masih bisa repot. Berarti masih ada yang dikerjakan. Berarti kita masih bermanfaat…untuk membuat kerepotan…hihihi…

Buat yang lagi santai…hmmm…bersyukur jugalah. Karena masih bisa menikmati kesantaian. Santai itu mahal harganya. Apalagi di tengah kerumitan dunia yang semakin complicated seperti sekarang ini. Kadang kita harus sengaja meluangkan waktu untuk bersantai. Mencari fasilitas untuk mendukung acara santai kita yang direncanakan jauh-jauh hari.

Hmm…padahal bisa juga lho bersantai dengan murah meriah. Di antaranya adalah dengan daster. Hehehe…daster ? Gak nyambung banget, ya ? Tapi itulah enaknya kalau Gak Nyambung, terus bisa disambung-sambungkan…hehehe…

Di akhir pekan yang santai ini pun saya jadi ingin berbagi pengalaman tentang daster yang tadi nggak nyambung itu. Dari pada stress mikirin gonjang-ganjing ekonomi dunia dan harga saham yang heboh di lantai bursa, ya mendingan kita longgarkan pernafasan…Buka mata…pasang telinga…dan buka pori-pori semua…Lalu wuuuusssshhhh…..

Enjoy our life….

Salam hangaaaaat,

Ietje S. Guntur

Art-Living Sos 2008 (A-11.01.01

Start : 11/1/2008 9:25:24 AM

Finish : 11/1/2008 10:49:30 AM

DASTER…TAPI MESRA

Pulang kantor.

Rasanya badan sudah pegal dan kaku terikat ketat selama sehari penuh. Dari mulai pakaian dalam yang super ketat, hingga blus serta pantalon dan blazer yang membungkus tubuh berlapis-lapis, membuat pori-pori saya seperti tersekap dan tidak bisa bernafas. Rasanya Cuma ingin satu saja. Lepas bebaaaassss….Aaaah…

Perjalanan dari kantor ke rumah rasanya seperti bertahun-tahun. Sudah tidak sabar membebaskan pori-pori dengan semua atribut kantoran yang berkaitan dengan jabatan…uuuuhhh…Sudah terbayang …sampai di rumah, bisa memakai baju kebesaran…eeh, bukan sekedar besar ukurannya…tapi juga baju favorit yang mirip baju kerajaan… hehehe…kerajaan ‘home sweet home’.

Tiba di rumah. Semua atribut ditanggalkan. Blazer yang sepanjang hari tadi sudah berhasil meningkatkan wibawa saya di hadapan anak buah, ibu buah, bapak buah, teman buah, relasi, bahkan orang tak dikenal yang sekedar bersimpang jalan sekarang harus rela disingkirkan. Digantung begitu saja, dan tidak dilirik lagi…sampai besok !

Sekarang cari daster dulu. Baju daster kesayangan saya !

Hmmm…mumpung Pangeran Remote Control sedang tidak ada di rumah. Jadi saya bisa bebas menggunakan pakaian kerajaan saya…hehehe…Sehelai daster berbahan shantung dengan motif batik yang berwarna norak-norak bergembira.

Warna merah dengan corak bunga beranekaria. Yang kalau dibawa ke Kebun Raya Bogor, pasti akan menjadi eye catching yang menarik di antara warna hijau yang adem royo-royo. Dengan model sederhana, hanya berlengan you can see ( iiih…mo ngeliat apaan siccch ? ) dan bawahan yang melebar kemana-mana, jadilah daster itu mirip dengan tudung saji yang melingkupi tubuh saya…

Haaaeeeemmmmm….sekarang rasanya pori-pori saya bernafas lagi. Tidak ada ikatan kewibawaan. Yang ada hanyalah kemerdekaan untuk menghirup oksigen. Lalu saya pun mengambil posisi weeeenaaakkkkk… alias PW menurut istilah anak sekarang, duduk santai di sofa di depan tivi. Menjulurkan kaki sepanjang-panjangnya…dan merem melek sambil membiarkan angan melayang kemana-mana….Asyiiiikkkkk !!!

Sssttt…ngomong-ngomong soal daster kesayangan saya ini, sebenarnya tidak patut dibangga-banggakan. Tapiiiii….mengingat jasa-jasa sederhananya dalam meredakan emosi saya sepanjang hari, maka saya selalu membawanya hampir kemana pun saya pergi. Tentunya dengan sembunyi-sembunyi. Seperti menyembunyikan harta karun dengan rahasia terbesar, yang hanya-dia-yang-tahu.

Daster ini saya beli beberapa tahun lalu, di sebuah pojok toko yang menjual aneka baju tidur. Entah kenapa saya jatuh cinta pada si Norak-norak bergembira ini. Warnanya saja bukan warna favorit saya. Modelnya apa lagi. Lebar besar tidak karuan. Tapi namanya cinta…ya, begitulah…Setelah jatuh cinta, si Norak ini saya bawa pulang. Dan sejak itu hubungan kami menjadi sangat intim…Kalau orang lain punya TTM, saya punya DTM…Daster Tapi Mesra…hihihi…

Hanya saja, sesuai dengan pesan ibu saya, jangan menggunakan daster secara sembarangan, maka saya pun hanya menggunakan daster ini kalau ‘situasi sedang aman’. Dalam arti, tidak ada Pangeran Remote Control yang pasti akan mendelik kalau melihat Bidadari Cantiknya ini berbalut daster yang…alamaaaaakkkk…norak nian !

Ya, iyalah…sejujurnya…dari sudut teori maupun dari gunjingan antar suami ( yang kadang-kadang jadi ajang curhat dotcom juga), mereka sebetulnya ‘ilfil’ banget kalau melihat isterinya berdaster-ria dengan model ondel-ondel yang tidak karuan. Bayangan indah tentang Bidadari-nya akan hancur lebur begitu melihat Sang Isteri berbungkus daster dengan model yang jauh dari indah. Boro-boro menimbulkan selera. Menatapnya saja sudah enggan…hehehe…

Jadi, walaupun saya penggemar berat segala model daster, saya juga harus menjaga ‘pandangan’ suami saya. Agar beliau tetap mendapat pemandangan dan imajinasi yang indah tentang Bidadarinya. Paling tidak, kalau saya sedang ingin merayakan kemerdekaan pori-pori tubuh saya, maka saya akan memilih daster dengan model yang agak intelek…(hahaha…memangnya ada daster model intelek…aya-aya wae…). Yeah, pokoknya daster yang modelnya nggak daster banget gitulah !

Urusan daster-dasteran ini memang urusan klasik. Dan bisa berbuntut macam-macam. Dari mulai imajinasi yang indah dan semarak (saya tidak berani menggunakan istilah seronok…kuatir terkena sanksi UU anti keseronokan…heh heh..), hingga imajinasi yang berdekatan dengan urusan kerumitan domestik yang tidak jauh dari tukang sayur, dapur, anak-anak yang menjerit-jerit sepanjang hari, tagihan listrik dan air, serta omelan yang tak putus dari mayoritas pengguna daster alias ibu-ibu rumahtangga.

Itulah sebabnya…walaupun daster adalah lambang kebebasan dan kemerdekaan berekspresi, tapi model dan penggunaannya juga harus sangat dijaga. Aneh juga, ya…mau merdeka, tapi tetap harus ada pakem dan aturannya.

Pengalaman saya dengan daster-dasteran ini juga cukup panjang. Ibu saya sudah mengenalkan daster ini sejak saya masih balita. Di samping piyama yang menjadi pakaian wajib untuk tidur, daster juga menjadi pendamping untuk tidur dan bermain di dalam rumah. Ini catatan penting dari ibu saya : Jangan memakai daster, apalagi dengan model norak-norak bergembira atau model midnite show ke luar rumah.

Jadi saya, dan adik-adik perempuan saya ( yang laki-laki tentu tidak boleh pakai daster…emangnya apaan ???) hanya boleh menggunakan daster di area dalam rumah. Bahkan di halaman rumah kami sekalipun, sudah merupakan area terlarang untuk berdaster-ria. Repot banget tata kramanya ya ? Ya itulah…

Akhirnya…untuk mengatasi kerepotan itu, ibu saya lalu membuatkan kami daster dengan model lucu-lucu…eh, unik sebetulnya…bukan lucu ( kalau lucu kan nanti jadi baju badut…hehe). Baju bermain yang serba guna. Baju model baby doll dengan lengan setali dan hiasan bunga atau kantong di sana sini ( saya selalu minta kantong dua buah, untuk menyimpan segala macam benda). Jadilah…model daster saya semasa anak-anak dan ABG dulu juga tidak mirip model baju tidur yang siap dibawa mimpi saja. Tapi juga layak tampil, paling tidak sampai di halaman rumah dan sekedar ngobrol di teras.

Kebiasaan itu terbawa hingga saya dewasa, dan kemudian berumahtangga. Kadang ada juga sih keinginan memakai baju daster bermodel kemerdekaan seperti ibu-ibu yang lain, yang dengan gembira bisa ngobrol di jalan depan rumah sambil berbelanja sayur-mayur. Tapi karena ada tata krama yang harus dipatuhi, dan ada hati yang harus dijaga, saya mengalah saja…dan kembali dengan pakaian layak pandang kalau berada di luar rumah…hiks hiks hiks…

Bisik-bisik tentang daster, saya punya satu cerita rahasia…yang hmmm…pengen saya sharing juga dengan teman-teman dan sahabat saya . Suatu ketika…saya membaca di sebuah majalah wanita , bagaimana cara memikat hati suami. Salah satu di antaranya adalah dengan menggunakan daster model terbuka dari bahan tipis menerawang. Lalu saya pun membeli sehelai daster seperti yang disarankan oleh majalah wanita itu tadi. Dan dengan hati berdebar-debar menggunakan daster itu di hadapan Pangeran Remote Control.

Tapi apa yang terjadi ? Adegan midnite show yang saya harapkan berubah menjadi adegan pijat-memijat dan gosok-menggosok seluruh tubuh saya dengan minyak kayu putih…karena saya masuk angin tidak karuan…he he he. Dan besoknya saya terpaksa minum air jahe sebanyak-banyaknya karena perut saya menjadi kembung…hiiksss !

Kembali ke urusan daster.

Kalau direnung-renungkan, sebetulnya tidak ada yang salah dengan daster itu. Dia diciptakan untuk kenyamanan dan keamanan. Yang penting, seperti juga baju-baju penutup tubuh lainnya, pergunakanlah daster sesuai dengan waktunya. Kalau teman saya malah menambahkan, sesuaikan dengan umurnya…(maksudnya…kalau sudah umur berlebih gitu jangan pakai baju daster model terbuka…bisa masuk angin seperti saya… hehehe).

Semua baju ada aturan pakainya. Bukan hanya obat yang mematok aturan pakai. Baju, dan asesoris lainnya juga mempunyai pakem serta tatakrama. Ibarat sebuah identitas, baju juga menyandang identitas tertentu, seperti corporate identity. Daster yang sederhana itu juga bisa menunjukkan ‘ siapa kita’.

Jadiiiii…masih mau pakai daster ??? Hmmm…siapa takjuuub ??

Jakarta, 1 November 2008

Salam kemerdekaan,

Ietje S. Guntur

Special note : Thanks buat sahabatku Bete yang nggak pernah pakai daster, tengkyu banget buat inspirasinya…juga Edo, Rif, Bee, Jeff, Rip76 (aku masih ingat omongan kamu seabad lalu..hihi..), dan para bapak di ajang curhat dotcom…hehehe…thanks buat sharingnya…Dan thanks banget buat My Lovely Mom yang sudah menularkan ilmu dasternya yang luar biasa…I love U forever♥♥♥

Obrolan Koran Bekas

November 8, 2008 by ietje guntur

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Bookman Old Style”; panose-1:2 5 6 4 5 5 5 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Mistral; panose-1:3 9 7 2 3 4 7 2 4 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Bodoni MT”; panose-1:2 7 6 3 8 6 6 2 2 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:Ravie; panose-1:4 4 8 5 5 8 9 2 6 2; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:decorative; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Dear Allz…

Met pagiiii….Lagi ngapaiiiiiinnn ???? Lagi bekerja ? Lagi merenung ? Lagi beres-beres rumah ? Lagi…hmm…ada yang lagi baca koran sambil menyeruput secangkir kopi ? Waaawwwh…asyiiik bangeeet.

Libur-libur begini memang enaknya duduk santai…sambil baca sana sini…eeeh…baca koran kan gak enak sambil wira-wiri ya ? Kecuali saya, barangkali. Baru tadi satu menit memegang koran…eeeh, masakan saya sudah mendesis-desis di dapur. Jadinya lari lagi ke dapur. Koran dilempar begitu saja di kursi. Nanti akan dilanjutkan lagi…kalo sempat Hmm…sayang juga, berita bagus…kalau tidak cepat dilahap, jadinya seperti makanan yang kadaluarsa.

Eeh…jadi kepengen cerita juga nih. Tentang koran bekas. Mau, ya ? Mumpung lagi baca koran…sekalian deeeh…

Oke khaaan ? Selamat menikmati yaaa…

Selamat hari libur juga…

Salam hangat,

Ietje S. Guntur

Art-Living Sos 2008 (A-11

Kamis, 06 Nopember 2008

Start : 11/6/2008 9:45:15 AM

Finish : 11/6/2008 4:10:55 PM

Edit : 11/8/2008 8:56:58 AM

OBROLAN KORAN BEKAS

Hari libur.

Saya sedang memilah-milah tumpukan koran dan majalah. Niatnya sih sebagian koran lama ini mau dijual saja…dikiloin jadi koran bekas. Biar tidak memenuhi gudang saya. Mungkin masih bisa berguna di tempat lain. Sementara kalau menumpuk di rumah saya cuma jadi tempat bermukimnya tikus dan kecoa plus segala debu dan kutu-kutu kecil.

Saya memilah berdasarkan hari. Biasanya koran Sabtu dan Minggu mendapat prioritas pertama untuk disimpan, karena artikelnya banyak yang bervariasi. Setelah itu dari jenis koran yang ada. Dan harap maklum saja, penghuni rumah saya ini pecinta segala jenis koran. Dari mulai koran papan atas yang harus berlangganan hingga koran kelas lampu merah yang hot-hot banget isinya…hehehe…Semua dilalap habis sampai ke sudut-sudutnya, terutama kalau ada iklan jual beli motor dan mobil (… kayak mau jadi pialang otomotif saja…hiks hiks…).

Saya sendiri suka banget membaca koran dengan segala gaya bahasanya. Dari mulai koran dengan bahasa Indonesia baku sampai koran aliran new jurnalism dan aliran kemerdekaan yang akrab dengan bahasa sehari-hari. Bukan hanya sekedar gaya bahasa koran yang beraneka, tapi dari koran juga kita bisa mengetahui sebetulnya informasi apa yang sedang ’in’ di dalam masyarakat. Walau kadang saya ngomel juga kalau isinya kelewatan menurut kacamata kepentingan saya, tapi kalau saya intip dari kacamata pemasaran informasi… yaaa…wajar sajalah…karena target marketnya kan memang ada.

Hmmm..asyik juga berkubang di antara timbunan koran. Ambil sini, lempar sana. Tumpuk di kiri, tumpuk di kanan…Sekarang sudah hampir menjadi dua tumpukan koran setinggi gunung…hiii…

Akhirnya, saya mendapat dua ikatan koran bekas, dari terbitan beberapa bulan lalu. Sebagian besar masih bagus dan utuh. Tinggal dibawa ke penampung koran bekas saja. Biasanya sih ada yang lewat di depan rumah. Tapi bakal kelamaan kalau menunggu dia, karena lewatnya tidak tentu kapan waktunya. Jadi nanti sekalian keluar rumah, akan saya bawa semuanya.

Sorenya, saya ke tempat penampung koran bekas di pasar yang tidak jauh dari kompleks perumahan . Di situ banyak koran dan majalah bekas ditumpuk rapi. Koran saya laku dijual dengan timbangan sekitar 25 kilogram. Lumayan banget. Bisa buat tambahan uang jajan…hi hi…

Sambil menunggu si bapak menimbang koran yang lain dan mengurus pembayaran, saya iseng melihat-lihat kesana kemari. Melihat berbagai koran dari berbagai penerbitan dan segala jaman. Ada yang masih baru gres, mungkin baru beberapa hari, tapi ada yang sudah agak kekuning-kuningan dimakan waktu. Saya masuk lebih ke dalam, dan melihat bukan hanya koran, tapi juga buku bekas yang sedang dipilah-pilah. Ini gudang penyimpanan barangkali. Asyik juga melihat tumpukan koran di sini. Seandainya saja mereka bisa berbicara…hmmm…

Tiba-tiba, dalam hening ruang gudang itu saya mendengar suara gemerisik. Hmm…saya pikir suara tikus atau kecoa yang sedang ronda. Tapi kok suaranya beda. Ini seperti suara bisik-bisik. Coba ya, saya simak lagi. Saya membuka daun telinga selebar-lebarnya. Aneh juga… suaranya berasal dari tumpukan koran-koran itu.

Saya menajamkan pendengaran…dan hhhaaaeemmm….ternyata ini dia sumbernya…

”Sssttt…kamu dari mana ?” Sebuah suara mirip desis terdengar dari bawah tumpukan koran. Haah ? Ada suara di sana ?

”Lihat saja…aku ini kan koran terkenal. Kalau kata orang pinter sih, aku koran papan atas.” Terdengar nada agak sombong.

”Papan atas ? Maksudnya ?”

”Ya, iyalah…aku dibaca oleh kalangan intelektual di Indonesia. Lihat saja, tampilanku begitu rapi. Kata redaksi yang memimpin koranku dulu, kami adalah trend setter berita di negara ini.”

”Uhhmmm…begitu, ya ? Kalau kamu dari mana ?”suara itu seperti menoleh ke arah lain.

”Aku ? Aaah…aku sih Cuma koran lokal dari daerah. Bisa ngumpul di sini bersama kalian juga sudah merupakan hal luar biasa buat aku.” Suara yang ringan dan sederhana terdengar dari pojok lainnya. Beberapa suara mendesis pelan.

”Kok bisa ada di sini ?” bisik yang lain.

”Aku dibawa oleh anak majikanku kemari. Menjadi pembungkus oleh-oleh dari daerahku untuk bibinya. Setelah itu aku dijadikan alas lemari dapur oleh pembantu di rumah itu. Minggu lalu, mereka membersihkan lemari, dan aku ditumpuk bersama koran lain untuk dijual ke tukang loak keliling.”

”Woww…jadi kamu pernah naik pesawat terbang, ya ?” celetuk suara lain, penuh kekaguman.

”Begitulah…tapi aku kan hanya berada di dalam tas. Aku hanya mendengar suara mendengung, dan suara wanita yang lembut di dekatku.”

”Ooh…itu suara pramugari barangkali.”

”Aaah…sok tahu kamu. Memangnya kamu pernah naik pesawat terbang juga ? Sok kenal pramugari segala ,” Suara sinis menyambar dari sisi lain. Suara si koran papan atas tadi. Terdengar gumaman kesal dari beberapa sudut.

”Eeeh…jangan dikira belum pernah , ya ? Aku juga dari luar kota, lho. Aku dari ujung lain pulau ini. Dibawa seorang eksekutif, dan dibaca sepanjang perjalanan. Aku melihat pramugari mondar mandir di situ, dan berbicara dengan beberapa penumpang.”

”Hmmm…hampir sama dengan pengalamanku dong.” Sebuah suara malu-malu muncul dari antara gumaman yang belum reda.

”Ayo…cerita dong…Seru nih ! Pramugari lagi ?” sebuah suara bernada nakal menyeruak riang. Suara mendesis menyetujui.

”Aku sih semula dibawa oleh seorang wanita. Dia melakukan perjalanan entah ke mana, tapi kayaknya pesawat luar negeri gitu. Soalnya bahasanya bahasa asing..”

”Uhh…kayak koranku dong ! Kan ini bahasa asing..” Nada sela.

”Ssstt…diam. Dengarkan dulu…”

”Ya…begitulah. Walau naik pesawat terbang asing, tapi dia asyik terus membacaku. Orang di sebelahnya kelihatan penasaran dan mengintip-intip apa yang dibacanya.” Suara itu hilang sejenak. Hening.

”Trus…trus…dia emangnya baca apa ? Beritamu cukup heboh hari itu?”

”Nggak tau deh. Tapi terus aku dilipat. Dimasukkan ke dalam tas. Dan yang membawaku itu asyik ngobrol dengan teman sebelahnya. Rupanya mereka baru berkenalan. Samar-samar aku dengar. Kedengarannya jadi akrab, karena mereka searah tujuan.”

”Hanya itu ?”

”Yaaah…setelah itu, aku lama juga disimpan di dalam tas. Baru setelah perjalanan itu, aku ditaruh di koper. Menjadi alas bagian bawah. Dan sejak itu beberapa kali ikut perjalanan dengan wanita itu. Ya…nguping-nguping sedikitlah tentang pengalaman perjalanannya ke berbagai kota dan negara.”

”Ada yang seru ?”

”Yeaaah…begitulah. Namanya perjalanan kemana-mana…pasti serulah. Aku sering ngobrol juga dengan segala pernak-pernik oleh-oleh yang dimasukkan ke dalam koper itu. Tapi nggak semua boleh diceritakan. Itu terlalu pribadi.”

”Uuuhhh…nggak seru deh !” sebuah suara bernada kesal nyeletuk dari bawah tumpukan. Nada menyetujui menggema seperti lebah.

”Aaah…barangkali pengalamanku yang paling seru dari semuanya.” Tiba-tiba sebuah suara yang riang mencuat dari sudut lain.

”Apaan sih ? Berita yang menghebohkan ? Selebritis bercerai-berai ? Dana BLBI yang salah kucuran ? RUU Pornografi yang dipro-kontrakan di dalam forum yang tidak penting ? BBM yang dipaksa turun? Bencana banjir yang jadi program rutin ? Pengangguran yang meningkat ? Anggota DPR yang ahli main sulap ?…iiiiihhhh…bassssiiiiii !!!!”

”Bukaaaan….bukan itu ! Aah, nggak jadi cerita deh…” suara di sudut tadi agak merajuk.

”Yeee…begitu saja ngambek ? Ayo dong…cerita…cerita…!!”suara lain yang lebih ceria mendukungnya.

Waaah…semakin menarik nih ! pikir saya. Saya menahan nafas…diam membisu sambil memasang antene setinggi-tingginya.

”Aku pernah menjadi alas duduk dan alas tidur seseorang yang cukup terkenal di negeri ini dan hmm…tahu dong dengan siapa…!”

”Siapa ? Gosip terbaru niih ? Kok nggak ada di koran kita ?”

”Aaahhh…off the record-lah…”

“Uuuh…nyebelin…kamu sok seleb juga. Kayak koran kuning…gosiiip !”

“Koran kuning ? Hmm….tapi suka khaaan ?”

”Ihhh…sok tahu …”

”Heey…sssttt…sssttt..diam….ada orang datang !”

Dalam sekejap, suara-suara itu kembali hening dan senyap. Hiruk pikuk bisik-bisik koran bekas itu menjadi tenang kembali. Saya mendengar suara langkah kaki menuju ke tempat saya duduk menyendiri.

”Waah…ibu…kok di sini. Kotor lho, Bu. Maaf, ya. Maklum ini gudang.” Suara bapak pemilik lapak koran bekas itu menggugah konsentrasi saya.
”Nggak apa-apa, Pak…Saya senang kok melihat-lihat…,” sahut saya, lalu beranjak meninggalkan gudang.

“Maaf ya, Bu…ini ada anak-anak sekolah mau beli kertas koran yang sudah lapuk. Katanya ada tugas untuk bikin peta timbul dari kertas koran. Mau saya ambilkan dulu. Kelihatannya ada di pojok gudang.”

”He…he…silakan Pak, saya juga sudah selesai kok.”

Pulang ke rumah, saya merenung.

Perjalanan selembar kertas koran memang bukan perjalanan yang pendek. Sejak dipersiapkan sebagai selembar kertas dari ribuan pohon yang harus rela ditebang untuk bahan bakunya, hingga proses perburuan berita oleh ratusan…mungkin ribuan wartawan dari berbagai penjuru dunia, hingga dibaca oleh ribuan…bahkan jutaan mata di seluruh muka bumi…dan akhirnya…setelah melalui berbagai lika-liku…semuanya terdampar di sini. Di pengumpul kertas koran bekas. Untuk selanjutnya meneruskan perjalanan entah kemana lagi…

Saya menghela nafas. Kesederhanaan atau kecanggihan sebuah berita, sebuah informasi, akhirnya tenggelam di sini. Di tumpukan kertas koran bekas….Barangkali sama seperti kita. Sebuah informasi yang kita miliki, suatu saat bisa menjadi harta karun. Tapi pada saat yang lain bisa menjadi hal basi yang tak berarti lagi.

Aaah…saya sungguh beruntung…tadi sempat belajar tentang perjalanan informasi dari lembar-lembar kertas koran yang teronggok sepi. Kalau saja kita lebih jeli, barangkali masih banyak berita yang belum terungkap dari koran-koran bekas itu.

Seandainya saja mereka bisa bicara…..

♥♥♥

Jakarta, 6 November 2008

Salam hangat,

Ietje S. Guntur

Special note : Thanks untuk korps media cetak yang menjadi inspirasi tulisan ini…juga pemilik lapak koran bekas, di mana pun berada…termasuk di Pasar Kebayoran Lama…

Permen Alternatif

October 12, 2008 by ietje guntur

Dear Allz….

Akhir pekan niiih…Apa kabar semua ? Setelah libur lebaran yang panjang…setelah heboh dengan urusan Asisten Dapur yang mudik ( dan gak datang-datang…ooohhh)…semoga pada hari ini teman-teman dan sahabatku sudah segar kembali…atau justru masih pegal-pegal ?

Hmm…kalau begitu, jangan diajakin ngobrol yang berat-berat dulu, ya ? Mau ngobrol yang ringan dan manis ? hehehe…Kalau begitu kita ngobrol tentang gula-gula aja,ya ? Eeeh…tapi ini bukan ‘gula-gula’ yang manise dan bisa tersenyum lho…ini gula-gula permen…yang terbuat dari gula dan kadang dibungkus cantik dalam kemasan…

Kali ini saya mau berbagi pengalaman, yang barangkali pengalaman kita semua juga…maklum saja…permen ada di mana-mana…Dan bagaimana kalau permen menjadi alternatif yang tidak terpikirkan di jaman sebelumnya ?

Ada apa dengan permen ?

Nggak usah penasaran…selamat menikmati saja. Semoga berkenan…

Salam manis…yang lebih manis dari permen…

Ietje S. Guntur

Art-Living Sos 2008 (A-10.01

Start : 09/10/2008 11:17:50

Finish : 09/10/2008 20:46:47

PERMEN ALTERNATIF

Hari Sabtu. Sore. Saya sedang belanja di sebuah toko swalayan terkenal.

Setelah puas belanja dan membanding-bandingkan harga ( yang selisihnya kadang kurang dari Rp 25,- heh heh…), saya menuju ke kasir. Antrian cukup panjang. Maklum tanggal muda. Biasanya sih saya enggan belanja di hari Sabtu, apalagi tanggal awal bulan…hmmm…pasti krodit ! Seperti diduga, pembeli sudah berjubel. Antrian orang yang mau membayar sudah panjang. Wajah kasir sudah kehilangan warna. Agak pucat. Dengan lekuk bibir menurun, menahan lelah dan kesal menghadapi antrian pelanggan yang tidak sabaran.

Giliran saya. Kasir yang sudah kelelahan menghitung belanjaan saya, dan melemparkannya ke kantong plastik yang berada di depannya. Sebentar-sebentar saya melirik ke kantong plastik dan memeriksa apakah belanjaan saya tidak salah lempar…kuatir kalau saling tindih dan berantakan isinya. Lalu saya membayar, dengan uang tunai (biasanya sih pakai kartu debit, biar praktis…atau kartu kredit, kalau sedang kepepet…he he he..).

Kasir menghitung lembaran uang. Mencocokkan dengan angka yang tertera di layar komputer. Lalu memberikan kembalian belanjaan, dan tiga butir permen.

“Lho, kok permen ?” tanya saya. Penasaran.

“Iya, Bu…tidak ada uang receh !” sahut kasir cuek.

“Lha…ini kan merugikan konsumen. Apa ada peraturan dari perusahaan ini untuk mengganti uang dengan permen ?” usut saya, yang kebetulan sedang kumat rasa telitinya.

“Nggak ada sih, Bu. Hanya untuk uang kecil. Recehan !” sambil matanya memandang saya dengan penuh selidik…(seakan-akan berkata ,”pelit amat sih ibu ini…uang segitu doang !!!”)

“Recehan ? Tapi ini kan uang…lama-lama jadi banyak juga ?” Saya balik mendelik. Enak saja uang saya dibilang ‘recehan’. Saya mendapatkannya dengan bekerja selama lebih 40 jam seminggu, 4 minggu sebulan. Duabelas bulan…hmm…kok jadi hitung-hitungan ya ?

“Ya, ibu tanya supervisor saja deh.” Akhirnya dia menyerah. Saya sebetulnya juga enggan berdebat dengan kasir yang hanya sebagai pelaksana di lapangan. Rasanya sih masih penasaran, tapi mencari supervisor atau duty managernya di tengah area begini ? Uuuh…buang-buang waktu.

Jadi dengan perasaan jengkel ( dan tidak rela !!!), saya meninggalkan kasir yang meneruskan layanannya kepada pelanggan berikut ( yang barangkali juga akan mengomel karena uangnya diganti dengan permen atau kembang gula).

Memang sih, dari nilai uangnya ‘hanya’ beberapa rupiah. Kadang Rp 50,- , kadang Rp 100,-, kadang Rp 150,-. Tapi pernyataan “tidak ada uang kembalian” ? Hmm…alasan yang ‘sangat tidak masuk akal’, kalau tidak mau disebut akal-akalan.

Kalau sudah tahu tidak ada uang kecil, kalau sudah tahu Perum Peruri tidak mencetak uang kecil dalam jumlah yang banyak, kalau sudah tahu Bank Indonesia tidak membiarkan uang receh berkeliaran di sembarang tempat, kenapa pihak toko atau pasar swalayan tidak menyesuaikan pencantuman harga dengan angka yang mudah dibulatkan ?

Kenapa harus ‘mengarang’ angka psikologis yang membuat pelanggan mengira berbelanja di Toko Swalayan A lebih murah dibandingkan dengan di Toko Swalayan B ? Padahal kalau kita rajin mengutak-atik, paling selisih harganya Rp 5,- , atau paling tinggi Rp 150,-. Angka yang bisa mengecoh kalau sudah ditempatkan di ujung harga. Misalnya di toko swalayan A tertulis Rp 995,-, di toko swalayan B tercantum Rp 1.050,- . Coba hitung selisihnya . Hanya Rp 55,-. Kalau itu bisa diganti dengan sebutir permen yang harganya mungkin hanya Rp 40,-. Sudah ada selisih Rp 15,-. Dan selisih itu bisa jadi bukan sekali dua kali, tapi berpuluh atau beratus kali dalam sehari.

Bukankah itu keuntungan tambahan buat pihak perusahaan atau toko tersebut ? Dan kita, konsumennya, seakan-akan dipaksa untuk menerima kenyataan, bahwa tidak ada uang receh adalah alasan untuk menggantinya dengan alternatif semaunya yang menguntungkan pihak pengusaha. Cara yang mudah dan gampang. Tapi bukankah itu cara mengambil keuntungan yang tidak wajar ?

Kebalikan yang terjadi. Kalau kita membayar dengan uang yang jumlahnya tanggung, misalnya tadi Rp 1.050,- dan kita memberikan uang Rp 1.000,- ditambah 1 butir atau 2 butir permen, kasirnya pasti menolak. Dan kalau kita ngotot, maka dia secepat kilat akan memanggil Duty Manager…dan bila perlu satpam…(yang kalau dibutuhkan oleh pelanggan selalu menghilang entah ke mana !).

Kembali ke rumah. Saya menghitung ulang hasil perburuan saya di toko swalayan. Membandingkannya dengan hasil belanja di warung dekat rumah atau di pedagang sayur keliling langganan saya. Sudah jelas ada selisih harga. Tapi yang bikin saya tambah jengkel adalah permen itu tadi…(masih tidak masuk akal !).

Kalau belanja di warung dekat rumah, kadang-kadang memang ada harga yang tanggung dan tidak ada kembalian yang pas. Pedagang di dekat rumah akan menawarkan, apakah saya mau diganti dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Kadang mereka menawarkan bawang, bumbu penyedap dalam sachet, bumbu dapur, atau apalah yang harganya kurang lebih sama. Jadi konsumen boleh memilih. Kadang, kalau sudah begitu, saya yang jadi nggak enak hati. Selisih yang tidak seberapa itu saya relakan saja. Pasti lebih bermanfaat buat mereka.

Dengan pedagang sayur keliling juga sama. Walaupun keuntungan mereka tidak seberapa, tetapi kalau total hasil belanja kita jumlahnya tanggung, maka biasanya mereka yang mengalah. Belanja Rp 9.200,- misalnya, akan dibulatkan menjadi Rp 9.000,-. “Sudah bu, nggak apa-apa. Biar jadi pelanggan terus. Biar berkah untuk saya dan untuk ibu.” Begitu kata mereka dengan wajah ramah. Nah, lho…lebih masuk akal, dan nggak ada permen-permenan ! Padahal mereka hanya pedagang kecil.

Ngomong-ngomong soal permen. Atau kembang gula. Atau bonbon (kata orang Medan). Atau apalah…pokoknya manis-manis gitu..Saya jadi bertanya-tanya.

Rasanya lucu dan aneh juga kebijakan Toko Swalayan itu. Entah siapa yang memulai, dan entah siapa yang mengesahkan, mereka dengan mudah mengganti pecahan uang kecil atau recehan dengan sebutir permen. Padahal belum tentu pelanggan mau memakan permennya ( yang kadang memang nggak jelas merek dan rasanya seperti apa !). Jadi akhirnya si permen itu terbuang begitu saja, jadi makanan semut.

Yang jadi pertanyaan saya berikutnya adalah : Kenapa mesti permen ? Kenapa tidak ada pilihan atau alternatif lain yang membuat pelanggan juga rela dan ikhlas melepaskan ‘uang receh’nya untuk Toko Swalayan itu ?

Kan tidak semua orang doyan permen. Atau pun kalau doyan, pasti ada selera tertentu yang dipilih orang untuk dinikmati. Tidak semua orang doyan sembarang permen. Termasuk saya. Saya memang bukan penikmat permen, walaupun kadang-kadang mau juga mencoba satu dua merek dengan rasa tertentu . Sekedar basa-basi kalau sedang tidak ada yang diicipi. Bukan apa-apa…selain malas mengemutnya, kadang bukan rasa enak yang dinikmati, tapi rasa lengket di lidah dan lecet di langit-langit.

Saya sih lebih memilih makan singkong goreng yang mengenyangkan atau makan timun dan bengkoang yang menyegarkan..he he he…jauh banget perbandingannya ya ? Ya, memang kita kan memilih sesuatu yang lebih berguna buat kita. Ngapain memilih, atau bahkan dipilihkan orang lain yang belum tentu cocok dengan selera dan kebutuhan kita.

Kembali ke permen !

Buat sebagian orang, permen mungkin diperlukan. Seperti seorang teman saya yang menderita penyakit gula darah ( nama ilmiahnya sih diabetes melitus). Kalau dia sedang terserang hypoglikemia, atau turunnya kadar gula dalam darah, maka dia butuh perangsang untuk meningkatkan kadar gulanya. Yang tercepat memang mengemut sesuatu yang manis-manis, seperti permen . Dalam sekejap, permen itu konon bisa merangsang peningkatan kadar gulanya.

Atau seperti teman saya yang tidak pernah tahan berdiam diri tanpa mengemil sesuatu. Mengemut permen dan mengunyah-ngunyahnya adalah aktivitas yang paling disukainya. Di dalam tasnya selalu ada bungkusan permen segala rasa. Dan itu nyaris tanpa henti silih berganti masuk ke mulutnya…seru juga ya…seperti memamahbiak…heh heh…

Tapi bagi sebagian orang lain, permen menjadi makanan yang berbahaya bagi kesehatan, apalagi yang dibuat dengan pemanis buatan atau artifisial yang diluar ambang kewajaran . Belum lagi campuran lain…yang hmm…agak menyeramkan. Misalnya campuran sejenis agar-agar atau jelly yang ternyata mengandung bahan berbahaya. Juga tambahan atau campuran lain seperti alkohol, narkoba , serta bahan-bahan yang ternyata tidak halal. Benar-benar membuat kita harus lebih teliti sebelum terlanjur mengemut dan ternyata bikin masalah baru…huuuhh…

Sebetulnya, sama seperti kebutuhan kita yang lain, makan atau tidak makan permen adalah pilihan. Kalau kita suka yang manis-manis, ya kita bisa memilih permen sebagai teman atau pengganti gula. Kalau kita tidak suka, ya kita bisa memilih gula alam dari buah-buahan…seperti rambutan, pisang, mangga, pepaya…dan timun ( he he he…itu mah lalaban yaaa …?).

Permen yang manis dan menyegarkan barangkali memang berguna, paling tidak untuk meningkatkan kadar gula di dalam darah. Sedangkan di sisi lain permen harus dihindari karena berbahaya bagi tubuh kita. Tapi ya, terserah kepada kita sendiri. Mau permen atau tidak, karena nilai lebih dan manfaatnya hanya kita yang merasakan.

Saya bukan anti permen. Tapi sebagai konsumen Toko dan Pasar Swalayan, serta sebagai orang yang bekerja di lingkungan perbankan, rasanya saya belum rela kalau permen dijadikan mata uang pengganti uang recehan….Jangan-jangan nanti KPK akan turun ke Bank Indonesia dan menemukan timbunan permen yang diduga sebagai ‘mata uang’ yang ilegal. Alamaaaakkkkk…!!! Lalu…apa nanti kata dunia ????

♥♥♥

Jakarta, 9 Oktober 2008

Ietje S. Guntur

Special note : Thanks buat mas Toto , Mel dan Eca yang jadi inspirasi tulisan ini….serta para kasir di jaringan toko dan pasar swalayan di seluruh IndonesiaPermen is not for changes…

KOLAK INTEGRITAS

September 27, 2008 by ietje guntur

Dear Allz….

Gut murniiiiinnggg….met pagiiiii….He he he…week end niiih…Lagi libur kerja, ya ? Lagi santai bersama keluarga…Asyiiiiiikkk…Met liburan deeh.

Hehe…seharusnya…liburan begini, kita ngobrol yang ringan-ringan saja, ya. Ngobrolin soal hidangan berbuka puasa, barangkali. Hmm…niat banget, ya ? Padahal kan bedug masih jauh…hahaha…Hidangan buka puasa apa yang paling ngetop di dalam jajaran kuliner Indonesia ? Jawabannya ringkas : Kolak !

Nggak percaya ? Gula aren, yang berwarna coklat keemasan itu khas banget gula Indonesia. Pisang kepok atau pisang raja bulu, ubi jalar mentega, dan kolang-kaling juga khas Indonesia. Ditambah dengan kayu manis dan cengkih sedikit…aaah…itu sih Indonesia bangeeet. Diguyur santan dari rayuan pulau kelapa…waah…wah…kolak benar-benar hidangan yang berwawasan nusantara…hehehe…

Kolak is a lovely food of Indonesia. Kalau nggak pake cinta, maka kolak pun kurang nikmat rasanya. Meramu kolak adalah meramu seluruh rasa. Tanpa cinta dan integritas…kolak Cuma sekedar hidangan pembuka puasa. Kurang gregetnya…

Eeh…kok jadi ngomong integritas, ya ? Waah…jadi pengen berbagi cerita juga nih…soal kolak dan soal integritas. Dua hal yang kurang nyambung. Tapi sekali ini pengen saya sambung-sambungkan. Mana tahu bisa nyambung…(ini bukan maksa…tapi strategi…ha ha ha).

Okelah…supaya kolaknya nggak keburu dingin…saya bagi-bagikan saja di sini, ya ? Selamat menikmati….Semoga berkenan…

Salam sayang dari pojok Bintaro yang sejuk,

Ietje S. Guntur

Art-Living Mgt 2008 (A-9.01

Start : 9/20/2008 6:29:36 AM

Finish : 9/20/2008 7:31 AM

KOLAK INTEGRITAS

Saya sedang menikmati hidangan berbuka puasa, semangkuk kolak. Ketika seorang teman tiba-tiba nyeletuk.”Sudah dengar kasus Lehman Brothers ?”

“Hmm…ya, sudah dong. Yang menyatakan diri bangkrut ? Beritanya saja sampai segede lapangan bola.” Sahut saya, sambil terus menyeruput kuah kolak yang manis-manis gurih dan menyorongkan potongan pisang ke dalam mulut. Disusul dengan potongan ubi dan buah kolang-kaling yang legit. Menyesapnya. Dan mengunyahnya pelan.

“Kenapa ?” lanjut saya lagi. Teman saya ini tipe orang yang suka memancing di kolak keruh…hehehe…maksudnya, tipe orang yang suka penasaran. Asyik saja punya teman seperti ini.

“Menurut kamu gimana ?”

“Apanya ? Kolaknya ? Atau Lehman Brothersnya ? Atau kita, sebagai penanggap ?” saya balik bertanya. Harus jelas dong, dia arahnya mau ke mana ? Dan apa kepentingannya dengan pertanyaan ini. Mau mencari informasi, mau menguji informasi, mau pamer ( karena sudah tahu lebih dahulu tentang kasus ini…hehe..), atau iseng saja sambil mengisi waktu berbuka puasa.

“Ya, tentang Lehman Brothers dong…Ngapain juga aku tanya tentang kolak ? Nggak masuk akal banget !” dia mulai sengit. Huuuuh…segitu aja ngambek…hi hi hi.

“Sabaaaar….bulan puasa nih. Ya, kan ada hubungannya juga sama kolak. Kasus ini sama dengan Kolak Integritas.” Sahut saya. Setengah cuek…(lagian, baru juga berbuka puasa, baru juga makan kolak, kok pertanyaannya sudah setaraf diskusi kelas dunia ?).

“Kolak Integritas ?” dia balik bertanya. Dengan nada heran. Dan penasaran…(ha ha ha…saya suka banget kalau melihat ekspresi seperti itu !).

“Ya, iyalah…urusan organisasi , apakah itu organisasi bisnis atau organisasi lainnya, ujung-ujungnya Cuma satu. Integritas !”

Acara buka puasa dengan semangkuk kolak itu sudah usai. Sisa-sisa rasa dan aromanya sudah nyaris lenyap dari pengecapan. Tapi urusan integritas itu masih berlanjut.

Lehman Brothers, dan kemudian disusul oleh Merril Lynch, adalah perusahaan jasa investasi – di bidang keuangan dan saham papan atas dunia, hanyalah sekedar contoh. Hanyalah sekedar kasus. Bahwa di dalam perjalanan sebuah organisasi perusahaan, apalagi di bisnis investasi yang rentan dengan pergolakan pasar yang terkait dengan transaksi keuangan harian, sangat dibutuhkan suatu integritas. Ketotalan terhadap profesi dan perusahaan. Ketotalan pengabdian dan profesionalisme dalam bidang yang kita geluti.

Tidak heran kalau perusahaan sejenis Lehman Brothers, yang telah memiliki tradisi bisnis kuat, menjadi panutan banyak organisasi perusahaan di dunia. Kepiawaian mereka mengelola bisnis, kehandalan mereka mengendalikan perusahaan di tengah gejolak dan badai keuangan dunia, membuat setiap orang di perusahaan itu layak dibayar mahal…(yang membuat iri dan ngiler para eksekutif di dunia bisnis lainnya). Untuk waktu dan profesionalisme mereka.

Mereka memang manusia yang harus siaga 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 365 hari ( atau 366 hari kalau tahun kabisat). Tidak ada detik dan menit yang lolos dari pengamatan dan pemantauan mereka. Pergerakan transaksi keuangan dan saham di sebuah pojok jalan di New York atau di sebuah warung kopi Pasuruan dan Sidoarjo tak luput dari catatan mereka.

Saat kita bisa tidur lelap atau berleha-leha bersama anak, isteri, suami, TTM (Tetangga Tapi Mesra , atau Teman Tapi Maksa…he he..), atau nonton dangdutan di lapangan dekat kelurahan, para eksekutif di Lehman Brothers masih terjaga. Atau setidaknya ponsel mereka tidak pernah dimatikan sejenak pun. Mereka siaga penuh, lebih dari Unit Gawat Darurat di rumah sakit. Pikiran mereka pun terprogram untuk terus menganalisis situasi keuangan internasional. Di mana pun berada.

Kesiagaan mereka adalah bagian dari integritas mereka. Nafas mereka adalah bagian dari integritas mereka. Darah mereka adalah bagian dari integritas mereka.

Lalu pertanyaannya : Mengapa mereka masih bisa bangkrut ?

Itulah integritas.

Seperti kolak, integritas harus menyatu dari berbagai unsur. Unsur pribadi. Unsur kultur perusahaan. Unsur kultur bisnis. Unsur pergolakan ekonomi dunia. Unsur harga saham yang naik turun di bursa saham. Urusan perubahan musim yang mengakibatkan terjadinya banyak gagal panen di beberapa belahan bumi dunia. Unsur terjadinya pemogokan dan unjuk rasa karyawan yang mengakibatkan roda industri tersendat. Unsur harga miyak bumi yang pernah menjadi primadona ekonomi. Dan banyak unsur lainnya…yang menyatu dalam satu adonan. Kolak !

Tidak ada integritas yang berdiri sendiri. Bukan sekedar professional dalam pekerjaan, bukan sekedar taat dalam mematuhi rambu-rambu SOP ( Standard Operating Procedure ), bukan sekedar karena organisasi memiliki tradisi bisnis yang kuat, bukan sekedar karena ada filosofi kerja yang melekat. Tapi semua, harus ada dan terus berkembang.

Integritas memang muncul dari dalam diri. Tapi dia baru bergerak, kalau kita bergandeng tangan dengan yang lainnya. Seperti atom, baru menjadi molekul kalau dia bergandeng tangan dengan atom lain. Dia baru menjadi zat kalau antar molekul sudah bergabung menjadi satu. Dan terus bergerak.

Integritas baru akan terasa kalau kita mampu memberi, dan menerima. Memberi kelebihan yang kita miliki, dan menerima kekurangan kita untuk diperbaiki dan diisi dengan unsur yang kurang. Tanpa keterbukaan, tanpa kemampuan penyerapan atau permiabilitas, kita akan menjadi seperti batu…(eeeh…bukan…bahkan sebutir batu pun terdiri dari banyak unsur !).

Integritas adalah sebuah daya. Sebuah energi. Integritas yang kuat, akan memberi energi kepada lingkungan untuk sama-sama berubah, untuk sama-sama berkembang, untuk sama-sama saling menjaga. Untuk sama-sama saling memiliki dan saling berbagi. Sehingga secara keseluruhan, integritas adalah daya untuk saling menikmati.

Kembali ke kasus Lehman Brothers yang menyatakan diri bangkrut.

Apakah mereka tidak memiliki integritas ? Pasti punya. Tapi apa yang kurang ? Barangkali tradisi tentang daya berbagi dan daya kebersamaan yang ‘mulai mereka tinggalkan’. Kenapa? Karena dengan melaju sendiri, dan meninggalkan dunia lain di belakangnya, maka dia menjadi tidak menyatu dengan dunia sekitarnya. Tidak ada keseimbangan lagi.

Padahal kalau kita simak dari nama perusahaannya : Lehman Brothers. Nama yang pasti memiliki filosofi kuat. Brothers…saudara laki-laki, keluarga. Memang, mereka adalah keluarga Lehman…(Henry, Emanuel dan Mayer…sebuah keluarga imigran Jerman, tahun 1850). Tapi lebih jauh lagi, mereka seperti sebuah keluarga. Keluarga dunia. Paling tidak, ya keluarga bisnis keuangan dunia. Dan kita tahu, tidak ada bisnis keuangan yang berdiri sendiri. Dari New York sampai Tokyo. Dari Rio de Janeiro sampai Singapore. Dari Montgomery, Alabama sampai ke Timika. Dari London sampai ke Gresik dan Sidoarjo.

Kasus Lehman Brothers pasti akan terus bergulir. Soal integritas mereka pasti dipertanyakan.

Dan kalau kita mau belajar, di sinilah kita bisa membuka mata dan telinga selebar-lebarnya untuk mendapatkan informasi dan data yang akurat . Lalu membuka pori-pori untuk menyerapnya. Dan membiarkan rasa dan pikiran kita menuntun untuk mendapatkan maknanya.

Kita bisa belajar satu hal. Bagaimana meramu integritas. Dan menjadikannya semangkuk kolak kehidupan, yang enak dimakan, dan pas dengan cita rasa lidah kita. Menyatu dengan diri kita. Dan menjadikannya sebagai sumber tenaga. Untuk berbagi. Untuk menjadi bagian dari perjalanan hidup ini.

We’ve learned that life is a great lesson.

Jakarta, 20 September 2008

Salam progresif penuh semangat,

Ietje S. Guntur

Special note : Thanks bangeeeet…buat sahabatku Mr. Terri..(yang kalau bertanya suka menggelitik seperti kerikil di dalam sepatu…hehehe…U’re my inspiration)…dan Kunang-kunang di Rimba Belantara…(thanks sudah nongol pagi-pagi…hahaha…mana ada kunang-kunang pagi hari…)…Juga buat Daudse…yang diam-diam menjadi pemerhati ekonomi dunia…Thanks for allz who made my life complicated and complete…heh heh..

Management SDM – Validitas KPI

September 10, 2008 by ietje guntur

Dear Allz…

Kali ini saya mau sharing mengenai KPI (Key Performance Indicator). KPI ini adalah salah satu alat ukur performance perusahaan yang diperoleh dari penentuan indikator ( dulu disebut indeks) dalam pekerjaan dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan itu.

Di bawah ini adalah hasil diskusi dari Komunitas HR Opensources yang berangkai dari satu diskusi ke diskusi lintas dunia maya. Semoga bermanfaat.

Salam,

Ietje S. Guntur

—————————————————————————–

Re: [HOS University] Validitas KPI

Wednesday, 10 September, 2008 12:33

From:

View contact details

To:

HROpenSources@yahoogroups.com

Wednesday, 10 September, 2008 12:33

Dear mas Iman, mas Vero, mas Adith…

Hmmm…seru juga jadinya.
Bener yang mas Iman dan mas Vero sampaikan, bahwa validitas itu tergantung masa pakai dan fungsi.

Saya mau sharing untuk di bidang jasa , kalau permintaan layanan dari nasabah sudah semakin meningkat, maka KPI yang lama bisa direvisi, ditambah dan dikurangi. Kalau kata mas Vero, disesuaikan formulanya sehingga rasa yang dibutuhkan akan kembali.

Memang ada beda di buku dan di lapangan. Kalau ada perbedaan sedikit di dalam implementasi, tidak berarti bahwa KPI sudah tidak valid. Tetap ada toleransi, untuk sekian persen dan sekian waktu.

Kalau tiap hari kita cuma ngintipin urusan validitas ini, ya KPI ndak jalan, Cak. Kalau menurut buku, validitas harus 100 %, pada kenyataannya kalau kita sedang menjalankan ini, apalagi di perusahaan dengan kantor cabang yang bertaburan di seluruh Indonesia dan rentang kendali sebesar perusahaan saya…walaaah. ..repot Cak. Jangankan urusan KPI, urusan sosialisasi dan bahasa pengantar saja bisa berbulan-bulan. ..Menyamakan bahasa dan persepsi itu ndak gampang. Merah di kita belum tentu merah di mata orang lain. Rasa stroberi di gelas saya, belum tentu rasa stroberi di gelas rekan yang lain.

Yang penting, ada standar dulu. Samakan persepsi. Jalan.
Kalau bisa dimudahkan, kenapa harus disulitkan ?
Menyederhanakan yang rumit adalah tugas orang cerdas dan kreatif. Karena tidak semua orang mau berpikir rujit dengan dahi berkerenyit.

Gimana ?

Salam kompak,

Ietje S. Guntur ( yang suka belajar hal-hal sederhana)

— On Wed, 10/9/08, jean vero <vero70_is@yahoo. co.id> wrote:

From: jean vero <vero70_is@yahoo. co.id>
Subject: Re: [HOS University] Validitas KPI
To: HROpenSources@ yahoogroups. com
Date: Wednesday, 10 September, 2008, 10:51 AM

Cak Iman

Saya setuju dengan anda tentang KPI, KPI tidak harus menukik atau apalah namanya kata orang. . . . . KPI yang anda yakini tetep aja dipegang dan di berikan kepada yang butuh

ang gak butuh gak usah , . . . Lha wong KPI bukan kitab suci ae koq, tapi mirip Primbon.

Untuk berbicara tentang Validasi KPI, gak usah dipelosoro, dibanting, di variankan atau di kelir yang warna-warni, pakai saja warna netral, luapkan penjelasan dengan se-jelas-jelas nya, kalo mestinya mudah ya harus diakui mudah, jangan dipersulit, tetepi kalo emang rumit, uraikan aja agar menjadi/kelihatan gampang, inilah ilmu KPI yang bermanfaat.

KPI yang pernah saya pegang dan create, mudah-mudahan sampai hari ini masih dipakai di tempat-tempat saya terdahulu (maaf ini bukan maksudku, …. ), karena aku mebuat dan memperkenalkan KPI dengan sangat simple dan pada alkhirnya semua orang akan dengan mudah membuat KPI dan akan mengetahui secara langsung kapan itu EXPIRED,

Bagaiman anda mengetahui Validasi KPI,

Contoh Gampang :

Jika anda memiliki proses yang dimulai dari rasa asin sampai rasa strawberry, kemudian suatu saat rasa itu sudah tidak ada lagi alias hambar ( red: rasa asin & strawberry-nya sudah tidak ada ) , maka saat itulah yang dinamakan VALIDASI KPI yang sudah Kadaluarsa, dan perlu di Refresh dan Di Modifikasi Ulang Rasa itu akan kembali lagi seperti masa-masa sebelumnya.

Salam,

JV (Yang masih B.O.D.O Overdue KPI)

— Pada Rab, 10/9/08, Bayu Aji <iman_bayu_adji@ yahoo.co. id> menulis:

Dari: Bayu Aji <iman_bayu_adji@ yahoo.co. id>
Topik: Re: [HOS University] Validitas KPI
Kepada: HROpenSources@ yahoogroups. com
Tanggal: Rabu, 10 September, 2008, 8:49 AM

Thanks Cak Sun, at least saya atau Mas Adith, Mas Vero dan teman-2 praktisi di milis ini,  yang langsung terjun dalam penyusunan KPI dan mengimplementasikan KPI di lapangan sudah sangat paham arti validitas & realibilitas, dan bila dipahami lebih seksama slide dari Mas Adith itu tdk saja hanya menunjukkan hubungan saja. Btw, thanks cak, bagi saya pribadi sudah sangat clear dan sesuai saran sahabat saya yang lagi jadi suami siaga, saya hemat energy dulu, hehehe..maklum puasa.

Terus berbagi cak, dan mbokyo Mas Heru sekali-kali diajak manggung di event bulanan milis ini. Ayo Nonce, minta Cak Sun contact personnya Mas Heru dong dan ajak beliau sharing ilmu dengan sesama-nya di sini (eh, tapi Mbak Itje khan justru lebih deket ya hubungannya sama Mas Heru).

Salam,

Iman

— Pada Sel, 9/9/08, Sunawan <sunawans@yahoo. com> menulis:

Dari: Sunawan <sunawans@yahoo. com>
Topik: Re: [HOS University] Validitas KPI
Kepada: HROpenSources@ yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 9 September, 2008, 5:51 PM

Salam semua,

Mas Iman, tulisan sampeyan mantep mas, tp saya lihat kurang menukik, krn tdk menunjukkan validnya.

Lalu attachment saya baca unsur keterkaitannya sangat masuk logikanya menunjukkan sebab akibatnya, tp tdk saya lihat unsur validatsnya, hanya hubungan saja.

Klo korelasi, tentunya harus ada uji r, shg nanti muncul nilai dari r-nya, piye iki mas.

Saya dulu pernah melakukan uji validitas & reabilitas terhadap kompetensi, waktu itu yang ngajari mas heru ttg ilmu ini.

Sbg contoh studi kasusnya terhadap kompetensi salah satu perusahan Tbk yg besar di Indonesia, setelah di uji dgn factor analysis, validitas, reabilitas, uji r dstnya ternyata byk kompetensi yg kacau balau, padahal sudah mahal2 pakai konsultan bikin kompetensi tuh

akibatnya HRD managernya diganti he he he (itu kata dia).

Saya ambilkan contohnya, misalkan begini, ini contoh saja

Disebuah Bank yg sangat padat dan banyak konsumennya dimana dia selalu antri panjang dalam pelayanannya. Bagian front officenya.

Dalam kompetensinya terdapat namanya customer satisfation dgn terjemahan melayani pelanggan dengan senyum, menjelaskan dengan baik, dstnya, bobotnya tinggi apalagi sesuai dgn moto pelayanan Bank tsb.

Setelah diuji, ternyata tdk butuh tuh customer satisfaction krn ternyata antriannya masih panjang.

Ternyata yg dibutuhkan adalah akurasi, kecepatan dan harus diberikan bobot yg tinggi

Uji ini dilakukan dgn 2 cara yakni statistik dan kriteria lapangan.

1. kriteria lapangan, kita tanyakan kepada customer, apa sebenarnya yg mereka butuhkan, mayoritas mgkn tdk mau antri dan nunggu lama. hasilnya dari sana diolah lebih lanjut

2. dgn menggunakan para ahli, lalu disimulasikan dalam analisa statistik

ternyata hasilnya custimer satisfation terdelete.

Tp kemudian hal tsb tetap dipertahankan krn ada kemauan dari manajemen sehubungan bahwa hal tsb adalah core value organisasi, akhirnya utk bobot kompetensi tsb dijadikan kecil.

Saya sendiri dulu sering melakukan simulasi sendiri terhadap kompetensi perusahaan2 tertentu apakah valid atau tdk.

Utk belajar Uji ini silahkan anda baca buku statistik analisis multivariat, klo menggunakan SPSS, pakailah yg generasi 13 keatas, disana lengkap uji-ujinya.

Nah, bagaimana aplikasinya dalam KPI?

Salam

Cak Sun
Senang Berbagi Dengan Anda Semua
HP: 0817 994 0224
Telp: 021 – 8499 6361

— Pada Sel, 9/9/08, Iman <iman@imcp.co. id> menulis:

Dari: Iman <iman@imcp.co. id>
Topik: Re: [HOS University] Validitas KPI
Kepada: HROpenSources@ yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 9 September, 2008, 6:03 AM



Thanks Mas Adith, amat sangat jelas dan menjelaskan korelasi Objectives & measurement.

Bila belum juga jelas juga, silahkan tutup mata, tarik nafas dalam dalam, hembuskan dengan perlahan …dan buka mata dengan ketenangan dan kemurnian hati lalu lihat lagi file tersebut. Somoga jelas.

Salam,

Iman

—– Original Message —–

From: Muhammad Adithia Amidjaya

To: HROpenSources@ yahoogroups. com

Sent: Tuesday, September 09, 2008 4:43 PM

Subject: Re: [HOS University] Validitas KPI

Allz,

The attached slide is self-explanatory. Coba lihat, dengar, dan rasakan makna dari slide tsb.. Coba telaah panah ke atas dan ke bawah di paling sebelah kiri dari slide. Dan.. saya tahu bahwa ada di antara kita yang belum paham tentang KPI, .. mungkin hal itu disebabkan kita belum ingin memahaminya. Maka begitu kita mulai mulai berpikir betapa penting untuk memahaminya, kita pun semakin ingin dan bahkan sudah memahaminya. . Sekarang..

Best Regards, -adithia-

http://www.linkedin .com/in/adithia

http://adithia. blogspot. com/

http://www.libraryt hing.com/ catalog/amidjaya

—– Original Message —-
From: Iman <iman@imcp.co. id>
To: HROpenSources@ yahoogroups. com
Sent: Tuesday, 9 September, 2008 15:26:13
Subject: [HOS University] Validitas KPI

Sobat HOS,

Di milis sahabat kita,  HRM Club dibahas tentang bagaimana mengukur validitas KPI yang ditanyakan oleh Mas Indra Edan. Kasihan tuh orang, orang gila pengin sembuh tapi yang ini pengin edan, hehehe… Nah kita bantu jawab ya disini..

Sobat, disana jawabannya macem-2 (bagus, di satu sisi itu menandakan semangat belajar yang tinggi). Ada yang jawab, “ndak tau ya..saya khan belum belajar jadi yang penting dibuat dulu”.  Ada juga yang jawab “ya ikut saja training KPI dulu, ntar minta instrukturnya untuk menjawab”. Salah sorang teman konsultan dalam milis partner kita itu menulis “cara yang paling banyak digunakan untuk mengukur validitas KPI adalah dengan SMART”, lalu beliau menambahkan kalau KPI tidak valid bila banyak target yang meleset.  Jadi yang dipakai untuk mengukur validitasnya adalah pencapaian target, demikian kesimpulan beliau.

Sobat, ternyata istilah yang demikian familiar yaitu KPI toh masih banyak yang belum paham arti sebenarnya dari KPI, bahkan teman konsultan tersebut-pun masih belum memberikan jawaban yang benar. Karena itu, apapun pendekatannya, marilah kembali pada konsep dasar pemahaman dari KPI (sebagaimana yang ditulis Mas Vero). Berbagai pendekatan adalah kembangan dan merupakan cara untuk meng-integrasi saja,  yang sebenarnya didalam praktek adalah cara untuk mengefisienkan eksekusi 2 atau lebih system dalam satu tempat (perusahaan) .

Kembali pada KPI, sobat HOS, saya hanya mengulang saja bahwa sebelum membahas validitas terlebih dahulu kita harus “clear” dengan terminology ini. KPI is measurement tools. KPI adalah alat untuk mengukur. Sebagai alat ukur, sama dengan alat ukur yang lain (nih mbak Itje pasti sudah ngelontok-tolong dibantu lebih detail dong) pasti akan dipertanyakan 2 hal, yaitu validitas dan reabilitas-nya. Validitas berarti apakah alat ukur tersebut benar fungsinya untuk mengukur obyek yang hendak diukur ? Contohnya untuk mengukur berat badan, maka pakailah timbangan badan, jangan pakai thermometer. Bagaimana reabilitas ? Reabilitas berkaitan dengan konsistensi dari alat ukur. Dengan berat badan yang sama, sekitar 70 kg saya menimbang kemarin, besok,  atau lusa-pun timbangan tersebut tetap sekitar 70 kg, tapi bila sampai kemarin lusa 65 kg, kemarin 75 kg dan hari ini 70 kg bisa dipastikan timbangan tsb tidak realibel.

Jadi sekarang bagaimana untuk mengukur validitas KPI ? Ya harus “ngeh” dulu apa yang diukur ? Apa yang diukur oleh KPI ? Jelas Objectives dari organisasi. Nah, tinggal di uji saja, apakah suatu KPI “benar” dipakai untuk mengukur  suatu  ”objectives” dari corporate ? Bila benar, berarti KPI valid. Lho lalu apa hubungannya dengan target untuk uji validitas ? Tidak ada ! Target tdk dipakai untuk menguji validitas, tetapi target dipakai untuk memantau proses pencapaian. memang erat hubungan KPI dan Target, tetapi KPI bukanlah target dan target tidak dapat dipakai untuk mengukur validitas KPI !

Nah silahkan meramaikan, menambahkan  dan semoga juga membantu sobat yang belum paham tentang terminology objective, kpi, target, dan inisiatif atau action plan.

Salam,

Iman

Kilometer Nol…

March 19, 2008 by ietje guntur

Little little to me….

February 29, 2008 by ietje guntur

Dear Allz…

Selamat pagiiiiii…selamat hari Senin…SEMANGAT PAGI donk !…Hmmm…smile dulu…hehehe…naaaah, kan jadi lebih seger gitu loooh…Awal bulan nih…mesti semangat empat lima yaaa ?

Nggak terasa…bulan Ramadhan sudah setengah perjalanan…Tahun ini juga sudah berjalan sembilan bulan…woooww…tinggal sedikit lagi waktu untuk mengakhiri tahun ini. Semoga di sisa perjalanan nanti kita tetap bersemangat…melangkah pasti…dan meraih cita-cita yang terus berkembang…

Teman dan sahabat semua…ini ada cuplikan pengalaman saya, yang barangkali juga menjadi pengalaman teman dan sahabat semua…

Selamat menikmati ya…

Salam hangat di pagi ceria ini,

 

Ietje S. Guntur

 

*******

 

 

 

Art-Living Sos 2007 (A-9

Start :9/29/2007 8:13 AM

Finish : 9/29/2007 9:10 AM

Edit :9/30/2007 1:07 PM

 

 

LITTLE-LITTLE TO ME….

 

Saya baru selesai menghadiri rapat gabungan di kantor. Biasalah, pembagian tugas untuk program tahunan. Seorang teman tersenyum senang, karena berhasil mengalihkan tanggungjawab tahun lalu kepada orang lain. Yang satu lagi tersenyum simpul karena mendapat porsi yang sesuai dengan minatnya. Dan satu lagi tersenyum kecut, sambil menenteng tumpukan kertas di salah satu lengannya.

“Kenapa ?” Tanya saya. Tidak biasanya dia meringis seperti ini.

“Hmm…beginilah ! ‘Little-little to me…little-little to me..” ia mengangkat bahu sambil bergumam dalam bahasa English prokem yang asal terjemahan.

“Iya..salary no up-up, yach ?” sambung saya. Lalu kami tertawa tergelak-gelak.

“Hehe…iya. Tapi mau diapakan lagi ?”

“Hm…nikmati ajalah. Kan itu artinya kamu masih dipercaya…” saya berusaha membesarkan hatinya.

“Hikkss…percaya sih percaya…tapi bonyok juga lama-lama.”

Kami berpisah di depan pintu lift. Saya naik ke atas. Kembali ke ruang kerja saya. Dia turun satu lantai, melalui tangga darurat. Balik lagi ke habitatnya semula.

 

*

 

Di ruangan kerja, meja saya masih penuh dengan berkas yang bertaburan. Ada buku peraturan. Ada proposal sponsorship. Ada laporan perjalanan dinas. Ada menu makanan untuk acara. Ada tumpukan nota belanja yang mesti ditandatangani. Ada…eeh…banyak juga ya ? Saya tersenyum. Ingat teman saya tadi.

 

Little-little to me…little-little to me.” Terjemahan bebasnya adalah ,”sedikit-sedikit saya…sedikit-sedikit saya”. Lalu dilanjutkan ,”Salary no up-up !”. Alias gaji nggak naik-naik. Ha ha ha…

 

Entah siapa yang menciptakan kalimat ini. Tapi istilah ‘little-little to me’ seperti sebuah jargon yang ingin dihindari, tapi justru seperti magnet yang datang mendekat. Di dalam hidup ini, tak terkecuali di dalam dunia kerja…urusan lempar melempar tanggung jawab memang urusan lumrah. Ibarat lagu campursari ‘coba-coba melempar manggis…manggis kulempar mangga kudapat..”. Ya, coba-coba menghindari masalah, kadang malah ketiban pekerjaan yang lebih berat lagi tanggungjawabnya… hehehe…

Biasanya, kalau sudah urusan tanggungjawab kita memang cenderung menundukkan wajah dengan hikmat, lalu berusaha secepat mungkin menunjuk ke arah orang lain. Entah kenapa, kita memang lebih nikmat menunjuk wajah orang lain, daripada menunjuk diri untuk mengambil tanggungjawab. Dan bagusnya, selalu ada wajah-wajah yang memang menjadi langganan untuk dilempari dengan manggis atau mangga tadi…hi hi…

 

Mereka inilah yang selalu dicari (atau sudah ditakdirkan..?) dan selanjutnya akan menjadi martir penyelamat ( soalnya kan nggak pantes banget kalau disebut sebagai pahlawan…kelewat heroik…hmm..). Entah karena mereka punya aji-ajian khusus penakluk masalah, atau punya mantera abrakadabra…sehingga pekerjaan apa pun yang dilemparkan kepada mereka akan dilahap dengan cara seksama …

 

Seperti teman saya tadi. Dia memang dikenal sebagai orang yang ‘welcome’, terbuka, dan mau berkomunikasi dengan siapa saja. Akibatnya ya seperti tadi. Semua pekerjaan ‘tidak bertuan’ akan jatuh ke tangannya. Kadang, kalau saya sedang duduk bersebelahan dengan dia di ruang rapat , maka vibrasi jatuhan itu juga akan menghampiri saya. Lalu dia akan tersenyum senang, karena kami bisa bersama lagi. Bahu membahu dalam menghadapi belukar pekerjaan tak bertuan yang kadang kusut masai tidak karuan.

*

 

Ngomong-ngomong soal “little-little to me”, kayaknya ini memang sudah ‘garis tangan’ juga bagi saya. Nggak di kantor, nggak di rumah, bahkan di berbagai kegiatan organisasi…wajah saya ini kayaknya punya magnet untuk dilempari dengan berbagai masalah yang ‘nggak penting’ tapi seringkali ujung-ujungnya adalah unit gawat darurat. Alias pekerjaan gawat yang membutuhkan penanggulangan segera.

 

Telinga saya yang sepasang ini sudah biasa mendengar kalimat ,” Sudahlah…kamu saja yang mengerjakan. Bisa , ya ?” Atau dalam kalimat lain ,”Kasih saja sama si Ietje, pasti dia mau !”. Kadang dalam kalimat yang lebih persuasif dan agak membesarkan hati ,”Tje, kayaknya yang bisa melakukan pekerjaan ini Cuma kamu deh !” Gubraaak !!! Duuuuh…betapa bahagianya hati ini…hik hik hik…Padahal saya tahu persis, tidak ada orang lain yang mau pusing dan mau repot menguraikan benang kusut yang bergulung.

Kadang saya bisa menerima pekerjaan atau tanggungjawab itu dengan besar hati, karena pada saat itu saya sedang tidak ada kegiatan lain yang ‘penting’. Tapi tidak jarang hati ini juga bertanya-tanya ,” KENAPA HARUS SAYA ???” Memangnya di dunia ini sudah habis stok manusia yang bisa disuruh-suruh kapan saja ??? Hooooiiii…kemana sih semua orang ?!!

Kalau memikirkan hal seperti itu, barangkali hati dan pikiran saya tidak akan berhenti menggumam ,”BETAPA MALANGNYA SAYA !”. Tapi saya nyaris tidak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Bahkan ketika saya ingin memikirkannya pun, pekerjaan itu sudah berteriak untuk segera ditangani. Tidak bisa tidak, mau tidak mau saya harus segera mengulurkan tangan. Dan itulah sering yang terjadi. Gara-gara salah lewat, gara-gara salah lihat, gara-gara salah tersenyum, jadinya malah ketiban pulung. Tapi sebetulnya tidak ada yang salah, kan ? Semua memang sudah waktunya. Begitu kata seorang teman saya. Walau kadang prosesnya memang seperti kecemplung, diceburkan begitu saja dalam masalah yang tidak jelas urusannya.

Sekarang, kalau masalah sudah di depan hidung, mau diapakan ? Ayooo…MAU DIAPAKAN ??? Ya sudah. Mau tidak mau, suka tidak suka terpaksa deh dilaksanakan juga. Prosesnya ya seperti ini : Dari sekedar mencoba-coba, menjajal kemampuan dan berpikir sederhana, saya lalu mencoba untuk melangkah . Dari sekedar terpaksa, lama-lama kan jadi biasa…hehehe…

Yach, mencoba toh tidak ada salahnya. Orang lain belum tentu pernah merasakan pengalaman ini, jadi saya punya kebebasan dan keleluasaan untuk mencoba berbagai metoda untuk mencapai hasil yang optimal . Memang tidak selalu langsung berhasil. Tapi dalam proses selanjutnya saya selalu mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Entah berguna pada saat itu, atau pada saat lain dalam situasi yang mirip. Jadi biarpun Cuma jadi ‘pelengkap penderita’ di suatu saat , saya selalu memperoleh ilmu baru yang barangkali akan bermanfaat di kesempatan berikutnya.

Urusan ‘little-little to me’ ini barangkali sudah menjadi bagian yang terintegrasi dengan seluruh proses perjalanan karier dan hidup saya. Malah kadang-kadang, kebiasaan mencari yang ‘little-little’ pun menjadi panggilan hidup…hehehe…(kebangetan memang…seperti addicted…hiikkss). Bener lho ! Bahkan ketika pekerjaan di kantor hanya ‘itu-itu saja’, saya mencari kegiatan lain di mana saja untuk memperoleh yang ‘little-little’. Lalu mengisi diri saya dengan yang ‘little-little’ tadi …guna mendapatkan makna di dalamnya !

Ada satu hal yang menjadi prinsip saya, yang barangkali penting untuk dibagikan kepada orang lain. Saya tidak mau sekedar menerima tanggungjawab dengan jargon “little-little to me” dengan nada miris dan hati sarat dengan beban. Saya tidak mau membuat diri saya menjadi seperti TPA, Tempat Pembuangan Akhir. Saya harus merubah paradigma ,”little-little to me,” menjadi “ Just U and Me”. Atau dalam bahasa prokemnya ,”Lu juwal gue beli !” Dalam bahasa PD-nya “ Cuma saya yang bisa melakukannya.” Artinya, kalau nggak ada saya nggak rame…hehehe…Jadi kayak iklan juga ya ? Hiikks…

 

Begitulah. Waktu berjalan…kadang cepat seperti angin barat, kadang lamban seperti kura-kura. Saya menikmati semua perjalanan hidup dan karier saya. Nggak apa-apa ‘little-little to me”…kalau memang bisa, kenapa tidak ? Toh hanya orang yang menerima lemparan manggis tadi yang bisa merasakannya. Hanya orang yang kecemplung dan ketiban pulung yang bisa merasakan denyut-denyut aktivitasnya. Hanya orang yang berani mau, yang dapat memetik pelajaran apa pun dari proses yang berjalan bersamanya.

Sekarang saya duduk di sini. Di ruang kerja yang nyaman dan full AC. Sambil menikmati tumpukan nota dan dokumen di meja kerja, dan sekilas membaca email yang mengalir di layar komputer saya. Sesekali saya masih bisa mendengarkan lagu kesayangan dari sound-system yang diset di komputer saya juga. Asyik kan ?

Kalau bukan karena “little-little to me”…masa sih perusahaan akan memberikan ‘up-up salary” , dan saya masih bisa menikmati semua fasilitas dan kenikmatan ini …hmm..!!!

***

 

 

Jakarta, 29 September 2007

 

 

Ietje S. Guntur

 

 

Special note : Thanks untuk pak Frans Budhi yang membisikkan kalimat ini bertahun yang lalu ketika kita jadi panitia ultah perusahaan…hehehe…so sweet memories ya.

 

 

 

 

Morning Greetings

February 29, 2008 by ietje guntur

MORNING GREETINGS….

 

Hari Senin….Seperti ritual…saya membuka-buka email. Sepiiii…Ada sih, tapi sisa-sisa kiriman minggu lalu. Tidak ada sapaan…tidak ada teriakan penuh semangat :

‘SELAMAT PAGIIIIIIIIII….”

‘SEMANGAT PAGIIIIIII….’

 

Wow…rasanya hati ini jadi sedih juga. Kemana semua teman-teman dan sahabat-sahabatku ? Apakah semuanya sedang kejangkitan MONDAY SYNDROME ? Ohooo…ternyata…walaupun tiap hari disuntiki dengan jargon…”I love Monday”…eeeh… pas giliran hari Senin…adrenalinnya nggak mau naik-naik…hehehe…

 

Biasanya…saya suka jahil mengirimi SMS kepada teman-teman dan sahabat-sahabat. Kadang tiap pagi. Kadang seminggu dua kali. Kadang seminggu sekali. Kadang pas di hari Senin. Dan responsnya juga luar biasa. Dari yang jawabannya begini ,”Thanks ya Mam…udah ngebangunin !” Atau ,”Tau aja nih si Mbake…aku lagi males total “. Atau ,” Iiiih…maleeeesss…mata masih sepet ! Udah hari Senin lagi yaaa ? huuuuuu…”. Ada juga yang semangat empat lima ,” Horeeee….sudah hari Senin lagi…SEMANGAT PAGI, ya Say…!”

 

Hmmm….itulah serunya kalau punya aneka teman dengan aneka perilaku. Saya jadi tersenyum-senyum sendiri. Dan tanpa sadar, semangat pun ikut tersulut dan menyala untuk buru-buru berangkat ke kantor. Lalu membuka email…menunggu teriakan atau jeritan di layar datar di depan mata saya.

 

Tapiiiii…beberapa waktu ini saya sengaja diam-diam saja. Seakan-akan bertapa. Tidak menyapa teman-teman dengan SMS pagi, kecuali yang sudah langganan dan bakal murka kalau tidak ada satu ikon atau satu kata pun yang menyapanya…

 

Dan tahukah apa yang terjadi ? Dunia menjadi sepi. Sahabat-sahabat saya juga mendadak menjadi autis semua…hehehe…Entah sekarang pulsa ponsel sedang meningkat kursnya, atau kesibukan sahabat-sahabat saya begitu hebatnya, sehingga tidak ada satu pun morning greetings yang menyapa saya. Hik…hik…hik…

 

Saya merenung.

 

Untuk seorang Ietje yang sangat gemar mendengar celoteh teman-teman dan sahabat-sahabat, morning greetings ibarat sarapan pagi untuk memulai kehidupan. Rasanya saya menjadi tidak sendirian. Rasanya selalu ada yang memperhatikan dan peduli kepada saya. Rasanya, walaupun sedang sendirian di dalam perjalanan, ada seseorang yang menemani dan menjaga saya .

 

Barangkali, bukan hanya saya yang demikian. Banyak teman dan sahabat juga berharap ada sapaan dan ucapan selamat pagi untuk menggugah diri, agar hidup ini menjadi lebih bersemangat lagi. Tapi…itulah kita. Kadang kita enggan memulai, padahal kata orang bijak memberi lebih baik daripada menerima. Termasuk mengucapkan selamat pagi seperti ini. Jadi lebih baik kita yang memulai dahulu kan ?

 

Oleh sebab itu…untuk memulai hari ini …saya ingin mengucapkan dengan setulus-tulusnya….dengan semesra-mesranya…dengan seluruh rasa sayang yang saya miliki…

 

SELAMAT PAGI SAHABAT SEMUAAAA….

SELAMAT HARI SENIN…

 

Semoga minggu ini menjadi saat yang indah untuk kita semua…

Semoga Allah berkenan melimpahkan rahmatNya bagi kita untuk melangkah di jalanNya…

 

SMILE DOOOOONG …

 

SALAM HANGAAAAT PENUH SAYANG,

 

 

Jakarta, 27 Agustus 2007

 

 

Ietje S. Guntur